Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Generasi Muda Kian Fleksibel Dukung Perempuan Berkarier

Jumat 07 May 2021 15:06 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Berdasarkan studi, generasi muda kian mendukung perempuan untuk berkarier.

Berdasarkan studi, generasi muda kian mendukung perempuan untuk berkarier.

Foto: Dailymail
Berdasarkan studi, generasi muda kian mendukung perempuan untuk berkarier.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analisis tentang perubahan sikap kelompok dewasa muda dari generasi ke generasi selalu menjadi topik menarik dalam sebuah studi. Penelitian baru yang diterbitkan dalam Sociological Science juga mendalami tentang hal tersebut.

Studi "Gender Flexibility, but not Equality: Young Adults' Division of Labor Preferences" itu ditulis oleh Brittany N Dernberger dan Joanna R Pepin. Paparan mengungkap peningkatan dukungan generasi muda bagi perempuan yang berkarier.

Baca Juga

Akan tetapi, secara umum individu dalam rentang usia ini masih menyukai pengaturan tradisional suami bekerja dan istri mengurus rumah. Meski dukungan untuk perempuan berkarier meningkat, keyakinan bahwa perempuan adalah ibu rumah tangga dan pengasuh anak pun tetap kuat.

Dernberger dan Pepin memeriksa data dari survei perwakilan nasional yang dilakukan setiap tahun di AS antara 1976 hingga 2014. Survei tersebut didistribusikan di antara siswa kelas 12 di 133 sekolah menengah di seluruh negeri.

Riset secara khusus berfokus pada survei yang mencakup pertanyaan tentang pekerjaan dan pengaturan keluarga. Para siswa diminta membayangkan bahwa mereka telah menikah dan memiliki setidaknya satu anak usia prasekolah.

Kepada para peserta, peneliti menyajikan enam opsi pengaturan kerja yang berbeda dan diminta untuk memilihnya. Kategori pemilihannya "sama sekali tidak dapat diterima", "agak dapat diterima", "dapat diterima", atau "diinginkan."

Pengaturan tersebut antara lain suami bekerja penuh waktu sementara istri tinggal di rumah, atau istri bekerja penuh waktu sementara suami tinggal di rumah. Pilihan ketiga, kedua anggota pasangan bekerja penuh waktu.

Ada juga opsi suami dan istri sama-sama bekerja paruh waktu, serta suami bekerja penuh waktu sementara istri bekerja paruh waktu. Terakhir, istri bekerja penuh waktu sementara suami bekerja paruh waktu.

Dernberger dan Pepin menganalisis data dan memetakan tren respons peserta di tahun yang berbeda. Pada setiap survei, pengaturan yang menerima peringkat paling "diinginkan" terdiri dari pria bekerja penuh waktu dan perempuan mengurus rumah.

Pengaturan yang diberi peringkat paling "dapat diterima" yakni suami bekerja penuh waktu dan istri bekerja paruh waktu. Data juga menunjukkan peningkatan penerimaan siswa atas pekerjaan ibu selama bertahun-tahun.

Pengaturan yang melibatkan kedua jenis kelamin yang bekerja dalam jumlah yang sama dan pengaturan yang melibatkan istri yang bekerja lebih banyak daripada suami semakin dianggap dapat diterima. Akan tetapi, opsi itu tetap tidak disukai.

Sementara, pengaturan kerja tradisional pria di tempat kerja dan perempuan di rumah tetap menjadi yang paling "diinginkan". Meskipun, tingkat keinginan itu turun dari 44 persen menjadi 23 persen, berdasarkan survei sejak 1976 hingga 2014.

Penulis studi melakukan metode statistik yang disebut Analisis Kelas Laten untuk menunjukkan kelompok responden yang menunjukkan pola tanggapan serupa. Misalnya, 12 persen dari sampel termasuk dalam kelompok "berpenghasilan ganda".

Kelompok ini yang paling mungkin mempertimbangkan pengaturan di mana suami-istri bekerja penuh waktu sesuai keinginan. Menariknya, sebenarnya tidak ada satupun kelompok yang menunjukkan pola respons sesuai dengan egalitarianisme gender.

Selama ini, hambatan kelembagaan seperti kebijakan tempat kerja dianggap sebagai faktor utama yang mencegah generasi baru merangkul pembagian kerja yang setara. Dernberger dan Pepin menyanggah itu melalui paparan studi mereka.

Menurut mereka, keyakinan yang mengakar tentang perempuan sebagai ibu rumah tangga juga amat berperan. Setidaknya, generasi baru telah beranjak dari "tradisionalisme" ke "fleksibilitas gender", tetapi jelas bukan kesetaraan gender.

"Fleksibilitas gender, yaitu keterbukaan yang lebih besar terhadap berbagai pengaturan tidak sama dengan keinginan untuk laki-laki dan perempuan yang setara di tempat kerja dan di rumah, yang sering disimpulkan dengan ukuran menerima pekerjaan dari ibu," ujar Dernberger dan Pepin, dikutip dari laman PsyPost, Jumat (7/5).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA