Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Studi: Kesepian Bisa Tingkatkan Risiko Kanker

Jumat 07 May 2021 14:54 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

Kesepian di usia paruh baya bisa meningkatkan risiko kanker.

Kesepian di usia paruh baya bisa meningkatkan risiko kanker.

Foto: pixabay
Kesepian di usia paruh baya bisa meningkatkan risiko kanker.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi terbaru dari Finlandia menemukan bahwa kesepian di usia paruh baya bisa meningkatkan risiko terkena kanker. Studi ini mengikuti perkembangan kesehatan dari 2.500 pria berusia 42 hingga 61 tahun selama 20 tahun. Mereka berpartisipasi dalam studi kesehatan jantung yang melibatkan pengukuran perasaan kesepian pada skala 11 poin.

Setelah dua dekade dianalisa, peneliti menemukan bahwa pria yang dilaporkan merasa kesepian lebih mungkin didiagnosis dengan kanker dan menghadapi prognosis yang lebih buruk. Temuan yang diterbitkan bulan ini di jurnal “Psychology Research” hanya diterapkan pada kesepian, bukan isolasi sosial.

Baca Juga

Lalu apa bedanya isolasi sosial dan kesepian? Siiri-Liisi Kraav dari University of Eastern Finland selaku peneliti utama menjelaskan, isolasi sosial mengacu pada kurangnya kontak sosial dengan orang lain. Sementara kesepian adalah persepsi negatif dari isolasi sosial yaitu perasaan subjektif karena kesepian. Artinya tidak semua orang yang melakukan isolasi sosial merasa kesepian.

“Kesepian bisa mempengaruhi kesehatan fisik seperti Anda merokok atau obesitas. Baru-baru ini juga dilaporkan bahwa kesepian terkait dengan kematian akibat kanker pada populasi umum,” kata peneliti seperti dilansir dari laman Eat This, Jumat (7/5).

Menurut Kraav, perasaan kesepian juga dapat memicu respons stres, yang menyebabkan peradangan pada tubuh. Para ahli percaya bahwa peradangan itu kemudian dapat berdampak negatif pada jantung, sistem kekebalan, dan otak.

"Telah diusulkan bahwa kesepian dapat mengganggu fungsi hipotalamus-hipofisis-adrenal (sumbu HPA) dan meningkatkan peradangan tingkat rendah baik secara langsung, melalui gaya hidup yang tidak sehat atau depresi," kata Kraav.

Ia juga menekankan pentingnya mencegah efek negative dari kesepian dengan mengembangkan intervensi yang efektif. Misalnya dengan berkonsultasi dengan ahli, atau mencari hobi baru untuk merilis emosi negatif.

“Kesepian memiliki banyak efek buruk bagi kesehatan, peningkatan insiden kanker hanyalah salah satunya. Jadi penting bagi Anda untuk melakukan intervensi untuk mengatasi kesepian itu," kata Kraav.

Scott Kaiser, ahli Geriatri di Pusat Kesehatan Providence Saint John California, sepakat dengan studi tersebut. Ia menyatakan bahwa efek kesehatan dari kesepian setara dengan obesitas, merokok sebanyak 15 batang sehari, dan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia sebanyak 50 persen.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA