Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Obat Hipertensi tidak Memperparah Kesakitan Akibat Covid-19

Jumat 07 May 2021 04:30 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

Hipertensi tak dimasukkan sebagai faktor risiko penyebab keparahan penyakit Covid-19. Ilustrasi.

Hipertensi tak dimasukkan sebagai faktor risiko penyebab keparahan penyakit Covid-19. Ilustrasi.

Foto: iStockPhoto
Hipertensi tak dimasukkan sebagai faktor risiko penyebab keparahan penyakit Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Hipertensi dan obat-obatan hipertensi tidak memperparah kesakitan akibat Covid-19. Pernyataan ini disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (PERHI) Erwinanto.

"Ada pendapat yang salah, menyatakan hipertensi dan beberapa obat hipertensi meningkatkan beratnya Covid-19," katanya dalam acara taklimat dalam rangkaian peringatan Hari Hipertensi Sedunia 2021 yang disiarkan via daring pada Kamis.

Menurut data, prevalensi hipertensi pada penderita Covid-19 tidak melebihi prevalensi hipertensi pada populasi umum. "Jadi kita tidak bisa menyimpulkan bahwa hipertensi lebih banyak terjadi pada penderita Covid-19 dibandingkan populasi umum. Jadi kita meragukan bahwa hipertensi membuat orang jadi lebih mudah reinfeksi Covid-19," katanya.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, katanya, tidak memasukkan hipertensi sebagai faktor risiko penyebab keparahan penyakit Covid-19. Menurut Erwinanto, faktor yang memengaruhi angka kematian akibat Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh hipertensi seperti penyakit jantung, strok, dan gagal ginjal.

"Penyakit yang disebabkan hipertensi ini yang memengaruhi fatalitas Covid-19, tapi hipertensinya tidak termasuk," katanya.

Karena itu, Erwinanto menganjurkan penderita hipertensi tetap mengonsumsi obat-obatan yang direkomendasikan oleh dokter untuk menurunkan risiko mengalami sakit ginjal kronik, sakit jantung, dan strok. "Setiap peningkatan 20/10 mmHg akan meningkatkan risiko jantung koroner dua kali lebih tinggi. Semakin pasien tua, semakin tinggi risikonya. Hal yang sama terjadi juga pada stroke," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA