Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Friday, 8 Zulqaidah 1442 / 18 June 2021

Kelompok Anti-Kudeta Myanmar Bentuk Pasukan Pertahanan

Kamis 06 May 2021 15:01 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

 Pengunjuk rasa anti-kudeta memberikan hormat tiga jari terhadap pembangkangan selama demonstrasi di Yangon, Myanmar pada hari Selasa 27 April 2021.

Pengunjuk rasa anti-kudeta memberikan hormat tiga jari terhadap pembangkangan selama demonstrasi di Yangon, Myanmar pada hari Selasa 27 April 2021.

Foto: AP/AP
Pasukan akan melindungi para pendukung dari serangan militer pemerintah Myanmar

REPUBLIKA.CO.ID, YANGON -- Pemerintah Persatuan Nasional Myanmar (NUG), yang dibentuk oleh penentang aturan militer, mengatakan pada Rabu (5/5), pihaknya telah membentuk kekuatan pertahanan rakyat. Pembentukan ini untuk melindungi pendukungnya dari serangan militer dan kekerasan yang dipicu oleh pemerintah militer.

NUG mengatakan pasukan baru itu adalah pendahulu dari Tentara Persatuan Federal, dan memiliki tanggung jawab untuk mengakhiri perang saudara yang telah berlangsung puluhan tahun. Pasukam itu juga menangani serangan dan kekerasan militer oleh Dewan Administrasi Negara (SAC) yang berkuasa.

Baca Juga

Pemerintah persatuan, yang dibentuk oleh serangkaian kelompok yang menentang junta, di antaranya milisi etnis minoritas, telah berjanji untuk mengakhiri kekerasan. Mereka juga berkomitmen untuk memulihkan demokrasi dan membangun persatuan demokratis federal.

Di antara pendukung NUG adalah Persatuan Nasional Karen (KNU), yaitu pasukan pemberontak tertua di Myanmar. Brigade 5 KNU pada Rabu (5/5) mengatakan kepada kelompok media Pusat Informasi Karen bahwa pejuangnya telah membunuh 194 tentara pemerintah pada akhir Maret.

Seorang aktivis muda di Mandalay pada Rabu mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa, dia berencana untuk bergabung dengan tentara federal untuk membantu berperang melawan Tatmadaw, sebutan untuk militer Myanmar. Dia juga mengatakan, jaringan aktivis telah dimobilisasi untuk melakukan latihan militer di hutan.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA