Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Sejarah Awal Munculnya Adzan (Bagian II - Habis)

Jumat 07 May 2021 05:30 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

Muadzin mengumandangkan Adzan

Muadzin mengumandangkan Adzan

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Seni adzan dikembangkan selama Dinasti Ottoman

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Meskipun lafal adzan tetap konsisten, pendengar yang cermat dapat menangkap perbedaan halus dalam ritme dan nada. Syekh Saad mengatakan seni adzan dikembangkan selama Dinasti Ottoman dan merupakan cara kreatif bagi pendengar untuk mengetahui waktu shalat hanya mendengar nada adzan.

Berdasarkan variasi sistem melodi maqam Timur Tengah yang menggabungkan tangga nada, frasa, dan harmoni untuk menciptakan “suasana hati” baik dalam musik klasik maupun pembacaan Alquran, adzan dapat membangkitkan berbagai emosi. Contohnya adzan yang dibacakan dengan maqam Nahawand dan dinamai dari provinsi Nahavand di Iran. Imam Ali mengatakan Nahawand yang melankolis, sering digunakan untuk shalat Ashar pada Kamis untuk menandai akan dimulainya hari Jumat.

Syekh Saad mengatakan maqam Bayati adalah gaya adzan klasik. Dideskripsikan sebagai adzan santai dengan nada hangat dan dalam, sering digunakan untuk panggilan shalat Dzuhur.

Meskipun belum ada standarisasi tentang maqam mana yang harus digunakan untuk adzan, namun hal itu menjadi ritualistik dari waktu ke waktu. Irama maqam Sabah yang lambat dan mantap biasanya terdengar saat panggilan shalat Subuh karena untuk menenangkan jamaah dengan lembut ke masjid.

“Waktu Maghrib juga merupakan waktu umat Islam berbuka puasa selama Ramadhan dan puasa tambahan. Mereka tidak akan menginginkan adzan panjang saat itu. Selain itu, di bulan Ramadhan orang harus bersiap-siap shalat maghrib,” kata Imam Ali.

Di Tunisia, peserta pelatihan muazin pergi ke Rachidi Institute of Tunisian Music untuk menyempurnakan gaya maqam dan penampilan adzan mereka. “Diperlukan waktu antara enam bulan hingga lebih dari satu tahun bagi seorang muazin agar sepenuhnya terlatih. Semua itu tergantung pada seberapa cepat mereka dapat memahami seluk-beluk gaya, seberapa baik telinga mereka, dan bakat mereka,” kata Syekh Saad.

Seorang siswa yang belajar membaca Alquran dapat memilih maqam tertentu. Kemungkinan, mereka bisa mengembangkan gaya sendiri. “Jika Anda membaca bagian tentang siang dan malam, surga dan neraka, Anda akan menggunakan maqam Segah, saat naik turun, seperti gelombang. Itu kontras emosi,” kata Syekh Saad.

Irama adzan maghrib Syekh Mohammad Rifat Mesir yang stabil masih memiliki kekuatan untuk menggerakkan Syekh Saad. Sebagai seorang anak di tahun 1990-an, dia mendengarkan lantunan adzan almarhum syekh di rumah orang tuanya di wilayah Monufia, Mesir utara.

“Sheikh Mohammad Rifat melambangkan bulan suci. Dia adalah Ramadhan dan Ramadhan adalah dia, keduanya terikat selamanya,” kata Syekh Saad.

Lahir pada tahun 1882 dan populer karena suaranya yang merdu, Syekh Rifat adalah orang pertama yang membaca Alquran dalam bahasa Arab di Radio BBC pada tahun 1935. Ia meninggal pada tahun 1950.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA