Penyulut Meriam Tanda Buka Puasa Terima Honor Rp 100 Ribu

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra

 Kamis 06 May 2021 11:20 WIB

Sejumlah bocah bermain meriam bambu selama bulan Ramadan (ilustrasi). Foto: ANTARA/Anindira Kintara Sejumlah bocah bermain meriam bambu selama bulan Ramadan (ilustrasi).

Opik meneruskan tradisi di Masjid Agung Al A'raf Rangkasbitung sejak tahun 1928.

REPUBLIKA.CO.ID, LEBAK -- Penyulut meriam di Masjid Agung Al A'raf, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, merasa senang dan ikhlas menerima honor Rp 100 ribu untuk membunyikan dentuman suara sebagai pertanda tibanya umat Islam berbuka puasa pada Ramadhan 1422 Hijriah.

"Mungkin di Banten hanya ada di Rangkasbitung setiap Ramadhan masih lestari tradisi dentuman suara meriam," kata Opik, seorang petugas penyulut meriam di Masjid Agung Al A'raf Rangkasbitung, Kamis (6/5).

Dentuman suara meriam itu bisa terdengar sejauh 10 kilometer untuk menyampaikan informasi, tibanya umat Islam berbuka puasa. Warga yang tinggal di tiga kecamatan antara lain, Rangkasbitung, Cibadak, dan Kalanganyar bisa mendengar suara dentuman itu.

Penyampaian dentuman suara meriam tersebut, karena sejak dulu zaman Belanda tidak ada media elektronika untuk menyebar informasi telah tibanya berbuka puasa. menurut Opik, satu-satunya dentuman meriam yang bisa dijadikan sebagai pertanda tibanya waktu umat Islam untuk berbuka puasa Ramadhan.

"Tradisi dentuman suara meriam di Rangkasbitung berlangsung sejak tahun 1928 hingga kini masih dipertahankan," kata Opik.

Dia mengaku, awalnya merasa ketakutan saat menyulut api dimasukkan ke lubang meriam sehingga mengeluar dentuman suara keras. Hanya saja, kata dia, saat ini sebagai penyulut meriam selama 26 tahun merasa tetap senang, meski berisiko ada kecelakaan.

"Bahkan petugas penyulut bernama Sai pada 1956 bagian tangannya terputus ketika hendak menyulutkan meriam locok," kata Opik.

Meski begitu, kata dia, meriam locok sudah diganti dengan pipa dan panjang dua meter, yang juga menggunakan bahan peledak dari karbit dan air. Petugas penyulut meriam juga tidak dilengkapi alat peredam suara dan berpotensi mengalami gangguan pendengaran.

Hal itu karena bisa merusak bagian gendang telinga akibat hentakan ledakan keras. Apabila gendang telinga itu mengalami gangguan, katanya, tentu secara otomatis akan berdampak terhadap gangguan pendengaran telinga atau torek.

"Kami menyulut meriam itu tentu dengan hati-hati mulai mengisi bahan peledak dari karbit hingga menyulut api ke lubang meriam agar tidak mengalami kecelakaan," kata Opik.

Menurut dia, sangat senang menyulut hingga terdengar dentuman suara meriam. Pasalnya, banyak masyarakat setempat yang berkumpul di masjid dapat buka puasa bersama. Selain itu juga banyak orang tua hingga kalangan anak-anak muda rindu untuk mendengarkan dentuman suara meriam yang berlangsung selama satu sampai dua detik itu.

Mereka orang tua dan kalangan generasi berkumpul di depan masjid untuk mendengar dentuman suara meriam. Dentuman suara meriam itu, kata dia, hanya setiap tahun satu kali dilakukan pada Bulan Ramadhan dan masyarakat sangat merindukan tradisi unik tersebut.

"Kami tetap berani melaksanakan tugas yang berisiko, karena tidak ada petugas lain yang menjadi penyulut meriam," ucap Opik.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X