Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Mengapa Selandia Baru tak Mau Mengecam China?

Rabu 05 May 2021 12:41 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

 Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

Foto: AP/Nick Perry
Selandia Baru tidak mengikuti jejak negara Aliansi Five Eyes lainnya yang kecam China

REPUBLIKA.CO.ID, WELLINGTON -- Satu negara yang tergabung dalam aliansi Five Eyes , Selandia Baru, enggan mengutuk China. Negara yang dipimpin Jacida Ardern itu enggan mengikuti jejak anggotan lain yakni Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.

Empat dari anggota tersebut bersama-sama mengutuk perlakuan China terhadap etnis Uighur di Provinsi Xinjiang.  Mereka juga menyatakan keprihatinan atas langkah militer de facto China atas Laut Cina Selatan, penindasan demokrasi di Hong Kong, dan tindakan mengancam ke arah Taiwan.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Nanaia Mahuta mengaku menolak untuk bergabung dengan empat negara Five Eyes dalam kecaman terhadap Beijing tersebut. Dia mengatakan, merasa tidak nyaman memperluas peran aliansi dengan memberikan tekanan pada China dengan cara seperti itu.

Meskipun Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengakui pada Senin (3/5) bahwa perbedaannya dengan China menjadi lebih sulit untuk didamaikan. Namun negara itu masih lebih memilih untuk mengejar hubungan bilateral dengan Beijing.

China adalah pasar ekspor terbesar di Selandia Baru. Selandia Baru bergantung pada China untuk hampir 30 persen dari ekspornya, sebagian besar produk susu. Begitu pula Australia, namun kedua tetangga Antipodean itu dengan jelas memandang kebijakan China dari sudut pandang yang sangat berbeda.

Pemerintah federal Australia di Canberra telah menjatuhkan veto investasi besar China di negara bagian Victoria yang akan menjadi bagian dari inisiatif "Belt and Road" Beijing. Hasilnya, China telah memberlakukan sanksi perdagangan yang merusak terhadap Australia.

Menilik dari hubungan dengan aliansi intelijen Five Eyes, jawabannya sangat sedikit. Para pejabat di aliansi Five Eyes berasumsi bahwa karena kelima negara secara luas memiliki pandangan dunia yang sama, maka pandangan itu juga akan berlaku untuk China.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA