Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Sejarah Panjang Komunitas Muslim di Inggris

Rabu 05 May 2021 04:35 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko

Orang-orang menghadiri Masjid London Timur & Pusat Muslim London di London timur, Inggris, untuk layanan Ramadhan, setelah bulan suci harus diamati selama pembatasan virus korona tahun lalu tanpa pertemuan doa komunitas biasa, Rabu, 14 April 2021.

Orang-orang menghadiri Masjid London Timur & Pusat Muslim London di London timur, Inggris, untuk layanan Ramadhan, setelah bulan suci harus diamati selama pembatasan virus korona tahun lalu tanpa pertemuan doa komunitas biasa, Rabu, 14 April 2021.

Foto: AP/Aaron Chown/PA
Komunitas Muslim bagian dari sejarah panjang Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sadiya Ahmed, tampak sibuk selama lockdown Covid-19 terbaru di Inggris. Dia telah membuat podcast, membuat kompetisi fotografi warisan, dan sedang menyiapkan modul Sejarah Muslim untuk dijalankan bersama dengan kurikulum nasional.

Itu semua adalah bagian dari tujuan untuk memastikan sejarah Muslim Inggris mengambil tempat yang selayaknya dalam sejarah arus utama Inggris. "Muslim tidak hanya terpinggirkan dari masyarakat Inggris, tetapi juga bagian dari masyarakat Inggris," katanya dilansir dari Aljazeera.

Baca Juga

Dia ingin menempatkan cerita mereka di samping sejarah Inggris yang menjadi arus utama dan sudah terdokumentasi dalam arsip, museum, dan akademisi. "Ini memberi komunitas kami representasi yang otentik dan klaim atas sejarah Inggris," katanya.

Sejarawan Muslim, Humayun Ansari mengatakan, ada persepsi keliru yang populer bahwa Muslim di Inggris adalah orang-orang asing dan tidak memiliki akar. Dan karena itu mereka tidak memiliki ikatan dan ikatan emosional dengan negara ini.

"Akar adalah kebutuhan manusia. Ini adalah masalah akar sejarah yang membangun ikatan emosional antara orang dan tempat," tuturnya.

Sementara itu, Sunder Katwala, direktur British Future, sebuah wadah pemikir independen yang berfokus pada kesetaraan, keragaman, dan hak asasi manusia, mengaku optimis. Dia percaya generasi baru sejarawan, dan sejarah yang lebih dapat diakses melalui sumber daring dan media sosial, menciptakan ruang untuk menceritakan sejarah setiap orang.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA