Atlet Muslim Hadapi Tantangan Bertanding di Bulan Ramadhan

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

 Rabu 05 May 2021 05:40 WIB

Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Ilustrasi Ramadhan

Puasa Ramadhan berdampak kecil pada kesehatan dan kebugaran fisik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Bagi banyak atlet muslim, bulan suci Ramadhan menjadi waktu yang spesial untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjaga rutinitas latihan yang menantang karena sambil berpuasa. Siswa tahun pertama di Gustavus Adolphus, Yahya Bashir mengatakan Ramadhan merupakan momen untuk terhubung dengan agamanya.

“Saya belajar lebih banyak tentang agama saya. Ini tentang pengorbanan dan berhubungan dengan orang yang tidak memiliki cukup makanan,” kata Bashir. Sejak hari pertama Ramadhan, Bashir mengikuti rutinitas khusus untuk makan, belajar, dan pelatihan.

Setiap pagi, dia bangun jam empat untuk sahur. Kemudian dia mengikuti kelas sampai pukul 14.30 yang diikuti dengan pelatihan sepak bola dari pukul 16.00 sampai 18.30 sore. Setelah itu, dia pulang dan menunggu waktu buka puasa sambil beribadah.

Bashir yang bersekolah di SMA di Columbia Heights adalah satu-satunya pemain di tim sepak bola Gustavus yang berpuasa. Teman sekamarnya telah mencoba untuk tidak makan dan minum. “Mereka mendukung dan mencoba mengalami Ramadhan,” ujar dia.

Pesepakbola muda bukan satu-satunya atlet yang menjaga kebugaran saat berpuasa. Mahasiswa tingkat dua Mankato East, Omar Abdi juga menyadari nilai pengorbanan Ramadhan dan pentingnya menyadarkan mereka yang kurang beruntung selama Ramadan.

“Ramadhan membantu saya lebih dekat dengan agama saya dan membuat saya menjadi orang yang lebih baik. Beberapa orang tidak mempunyai apa pun untuk dimakan. Dengan berpuasa, saya bisa merasakan jika menjadi mereka. Itu membuat saya lebih menghargai banyak hal,” kata dia.

Sama seperti Yashir, Abdi juga memiliki rutinitas menjaga sesi latihan saat puasa Ramadhan. Abdi mencooba menjauhi orang-orang yang sedang makan. Awalnya, pelari ini sulit melakukannya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia dapat menyesuaikan diri.

Junior di Gustavus Adolphus, Farrque Hussein juga memiliki tantangan yang lebih besar saat ia mencoba untuk lolos ke Ujian Olimpiade di cabang renang. “Setiap tahun, saya merasa seperti \'Wah, sudah ada lagi. Ramadhan mengasyikkan. Ini adalah perayaan dan ketenangan selama sebulan penuh. Ini tantangan besar, terutama untuk pikiran Anda,” ucap dia.

Dilansir About Islam, Selasa (4/5), Ramadhan adalah bulan kesembilan dalam kalender Islam Hijriah. Dalam bulan ini diperingati wahyu pertama Nabi Muhammad saw, Alquran. Dari fajar hingga matahari terbenam, umat Islam menahan diri dari makanan, minuman, merokok, dan melakukan hubungan seksual.

Menepis ketakutan dan kekhawatiran yang terkait dengan Ramadhan di kalangan olahragawan, sebuah studi FIFA Medical Assessment and Research Center (F-MARC) menetapkan pemain sepak bola nasional yang menjalankan puasa Ramadhan di lingkungan yang terkendali tidak menunjukkan kompromi dalam kinerja fisik dan fisiologis mereka atau penurunan kesejahteraan subjektif mereka.

Studi ini direplikasi untuk menyelidiki pemain level elit yang lebih luas. Sementara itu, studi lain yang diterbitkan pada Mei 2012 di jurnal ilmu olahraga menunjukkan secara umum, puasa Ramadhan berdampak kecil pada kesehatan dan kebugaran fisik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X