Itikaf Ramadhan, Sunnah Nabi Muhammad tak Pernah Tinggal

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

 Senin 03 May 2021 18:30 WIB

Itikaf Ramadhan, Sunnah Nabi Muhammad tak Pernah Tinggal. Foto: Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi) Foto: smileyandwest.ning.com Itikaf Ramadhan, Sunnah Nabi Muhammad tak Pernah Tinggal. Foto: Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

Nabi Muhammad menggalakkan itikaf Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Itikaf di 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan sunnah Nabi Muhammad yang tak pernah ditinggalkan. Karena Allah SWT menurukan malam mulianya yakni Lailatul Qadar itu di 10 hari terakhir.

"Tidak diragukan lagi bahwa ibadah yang sangat galak dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika masuk sepuluh terakhir Ramadhan ialah beri’tikaf," kata Ustaz Ahmad Zarkasih Lc dalam bukunya "Meraih Lailalatul Qadr Haruskah Itikaf".

Ustaz Ahmad menerangkan, itikaf yaitu berdiam diri dimasjid dengan segala kegiatan ibadah. Namun kaitannya dengan malam lailatul Qadr itu bukanlah kaitan syarat dengan yang disyarati. Yakni I’tikaf bukanlah syarat untuk mendapatkan malam Lailatul Qodr.

Baca Juga

"Tapi jika mampu beri’tikaf mengapa tidak? Karena itu ialah sunnah yang sangat besar pahalanya," katanya.

Bahkan, kata Ustaz Ahmad, Itikaf tulah sunnah yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi selama 10 terakhir Ramadhan sepanjang hidup beliau.

"Aisyah ra bercerita bahwa: “Nabi saw (selalu) beri’tikaf di sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai Allah SWT mewafatkan beliau” (HR Bukhori & Muslim).

Tapi sesungguhnya, malam Lailatul Qodr tidaklah dikhususkan untuk mereka yang beri’tikaf saja, tapi siapapun yang ketika malam itu menghidupkan malamnya dengan ibadah sebagaimana disebutkan dalam penjelasan di atas.

"Barang siapa yang menghidupkan malam Lailatul Qodr dengan Iman dan Ihtisab (mengharapkan pahala), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau” (HR Bukhori)."

Bagi mereka yang harus masih bekerja di malam hari, ia terhalang untuk bisa beri’tikaf. Juga bagi wanita yang tidak bisa beri’tikaf karena mendapatkan dirinya delam keadaan tidak suci dan mereka-mereka ini masih punya kesempatan juga untuk mendapatkan kemualian malam lailatul Qodr. 

"Dan I’tikaf itu sendiri bukanlah suatu kewajiban," katanya.

Hanya saja kata Ustaz Ahmad, memang dengan beri’tikaf, kesempatan untuk terus beribadah sangatlah terbuka lebar. Orang yang beri’tikaf bagaimanapun keadaannya di masjid, ia tetap terhitung sebagai orang yang beri’tikaf dan tentu saja itu dalam ibadah, walaupun ia tidur. 

Dan keinginan untuk beribadah sangatlah besar ketika seseorang itu berada dalam masjid, karena termotivasi oleh saudara-sausdaranya yang sedang beri’tikaf juga. Tetapi bagi yang tidak beri’tikaf, ia tidak bisa disebut dalam ibadah.

"Ibadahnya di rumah tentu tidak bisa disamakan dengan ibadahnya orang yang beri’tikaf, karena ia mendapatkan pahala lebih dari ritual I’tikafnya tersebut," katanya.

Ustaz Ahmad mengatakan, semangat beribadah ketika berada dalam rumah tentu tidak sebesar ketika kita beri’tikaf di masjid. Di rumah kita bisa saja berpaling dari ibadah ke kegiatan lain dengan sangat mudah. 

Sekitar kita ada ponsel, laptop yang bisa kita nyalakan kapan saja, remote control telivisi yang bisa kita pencet tombolnya untuk menonton. Sehingg, focus ibadahnya pun menjadi buyar, karena banyak gangguannya.

"Dan itu berbeda jika kita berada dalam masjid ketika I’tikaf," katanya.

Orang yang beri’tikaf, karena kedekatannya dengan ibadah di malam itu. Maka kedeketannya untuk mendapatkan malam Lailatul-Qodr pun menjadi sangat terbuka lebar.

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X