Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Nagarakretagama Sembunyikan Islam? Gajah Mada Muslim?

Senin 03 May 2021 12:04 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Kompleks Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Ini merupakan kompleks makam Islam pada era Majapahit.

Kompleks Makam Troloyo di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Ini merupakan kompleks makam Islam pada era Majapahit.

Foto: troppen museum
Nagarakretagama Sembunyikan Islam di Majapahit?

REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Nagarakretagama berbohong soal Islam? Pernyataan dari pengamat politik-keagamaan, Fachry Ali, pada malam akhir pekan lalu menyentak kesadaran. Bayangkan, tanpa angin, hujan, atau guntur menggelegar, di tengah khusyuk 'ngaji sejarah' soal Islam di Jawa, Fachry menyampaikan soal ini.

''Saya hanya mengutip guru saya Profesor Merle Calvin (MC) Ricklefs. Kala kuliah di Monash University Australia dahulu, dia mengatakan begitu. Apa sebabnya? Ya, karena Ricklefs menganggap Kakawin (Kumpulan Puisi Jawa kuna) Nagarakretagama berbohong karena menyembunyikan kenyataan bahwa Islam sebenarnya sudah eksis di Majapahit,'' kata Fachry.

Tak hanya itu, Fachry kemudian melanjutkan pernyataannya dengan penyesalannya terlambat mengenal sosok dan pemikiran Ricklefs yang beberapa waktu lalu baru meninggal dunia. ''Saya juga katakan kepada guru saya soal penyesalan itu. Kalau saya terlambat mengenal pemikiran Ricklefs. Saya  terlebih dahulu kenal pemikiran lain, seperti Clifford Geertz --Soal Trikotomi Santri, Priyayi, Abangan. Akibatnya, saya sempat berpikir kurang utuh soal Islam di Jawa. Tapi, sudahlah karena telanjur, dan saya bersyukur punya guru masyhur, yakni MC Ricklefs,'' ujarnya lagi.

                         ****

Memang  dilihat dari kamus populer yang bisa terus diperbarui pad zaman milenial. 'Wikipedia' di sana tertulis: Kakawin Nagarakretagama itu menguraikan keadaan di Keraton Majapahit dalam masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (bertakhta 1350-1389 M) sebagai raja agung di tanah Jawa dan juga Nusantara. Pada masa dia inilah disebut sebagai masa puncak Kerajaan Majapahit. Naskah kakawin ini terdiri atas 98 pupuh, dibagi dalam dua bagian, yang masing-masing terdiri atas 49 pupuh.

Bagi bangsa Indonesia, Nagarakretagama yang menurut penulisnya, Empu Prapanca, menyebut ciptaannya sebagai 'Deçawarnana', sangat penting artinya. Melalui kitab puisi Jawa kuna ini idealita kebesaran Majapahit --dan kemudian oleh Sukarno dan M Yamin menjadi idealita Indonesia -- ditanamkan. Dan, ini masuk akal sebab  Nagarakretagama memang berisi puja-puji atas kebesaran Majapahit yang uniknya dalam kitab itu hanya berisi catatan perjalanan Hayam Wuruk ke wilayah seputar Jawa Timur saja, dan ini pun utamanya bertujuan untuk membuat berbagai pekuburan (candi makam) bagi para leluhurnya.

''Memang benar bila ada pernyataan bahwa Prapanca membesar-besarkan Majapahit sebab wilayahnya tak besaryang banyak diidealkan karena dapat dianggap sebesar Jawa Timur saja. Itu masuk akal sebab Majapahit bukan sebuah wilayah kekuasaan ala sebuah kekaisaran (imperium). Majapahit hanya mempunyai pengaruh yang luas. Ini bersesuaian dengan model pengakuan wilayah dalam kekuasaan Jawa yang bukan berdasar pada teritorial (wilayah), melainkan pada penguasaan 'cacah' (jumlah penduduk/tenaga kerja). Kekuasaan Jawa beda dengan Eropa yang punya model kekuasaan berdasar atas penguasaan wilayah dengan batas-batas yang jelas,'' ujar Fachry.

‘’Jadi, Nagarakretagama menggelapkan sejarah Islam karena tidak menyertakan fakta perkembangan Islam di Majapahit. Ricklef menulis ini dalam bukunya yang terbit pada 2006: Mystic Synthesis in Java: A History of Islamization from the Fourteenth to the Early Nineteenth Centuries’. Silakan baca soal ini dalam kaitannya Isam di Jawa dalam buku hasil penelitiannya itu,’’ lanjut Fachry.

Baca juga : Mualaf Stephen McGowan: Masuk Islam adalah Keputusan Benar

Fakta lain soal Nagarakretagama juga diketahui bahwa Kakawin ini ternyata baru kemudian ditemukan dan menjadi kajian pemerintah kolonial setelah ditemukan oleh JLA Barandes, seorang ahli sastra Jawa Belanda. Dia memperoleh naskah ini kala ikut menyerbu istana Raja Lombok pada 1894. Konon, ketika penyerbuan ini dilaksanakan, para tentara KNIL membakar istana dan Brandes menyelamatkan isi perpustakaan raja yang berisikan ratusan naskah lontar. Salah satunya adalah lontar Nagarakretagama tersebut. Naskah ini disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda dan beberapa waktu lalu diserahkan untuk disimpan di Perpustakaan Nasional.

                         

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA