Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Ciri-Ciri Muslim yang Mencintai Rasulullah SAW

Senin 03 May 2021 07:24 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah

Cinta kepada Rasulullah SAW indikator iman seorang Muslim. Rasulullah SAW. Ilustrasi

Cinta kepada Rasulullah SAW indikator iman seorang Muslim. Rasulullah SAW. Ilustrasi

Foto: Republika/Kurnia Fakhrini
Cinta kepada Rasulullah SAW indikator iman seorang Muslim

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Terdapat banyak Muslim yang sering kali mengaku mencintai Rasulullah SAW, namun tindakannya justru tak mencerminkan ajaran Nabi. Lantas seperti apa ciri Muslim yang mencintai Rasulullah itu?

Syekh Aidh Al Qarni dalam buku "Sentuhan Spiritual" menjelaskan, orang Muslim yang mengaku sebagai kalangan Ahlu Sunnah sudah pasti taat dan patuh kepada ajaran Nabi Muhammad SAW. Sedangkan orang yang hanya mengaku mencintai Nabi, kata Syekh Aidh Al-Qarni, biasanya kerap berlaku inkonsisten, tanpa ibadah, tanpa adab, dan jauh dari kekhusyukan.

Baca Juga

Dalam kisah-kisah terdahulu, golongan umat Yahudi yang mengaku telah mencintai Allah SWT, namun mereka tidak taat kepada Nabinya. Mereka semua mendapat teguran keras dari Allah, dan bahkan Alquran mengabadikan sikap mereka dalam surat Ali Imran ayat 31. Allah SWT berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ “Qul in kuntum tuhibbunallaha fattabi’uniy yuhbibkumullahu wa yaghfir lakum dzunubakum wallahu ghafurun rahim.” 

Yang artinya: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”

Sehingga, dijelaskan, di antara kecintaan seorang hamba kepada Rasulullah adalah taat kepada sunahnya. Kemudian mengukitu jalan yang ditunjukkan Nabi, dan melaju dalam petunjuknya.

Syekh Aidh Al Qarni mengingatkan, barangsiapa yang tidak mengikuti sunahnya baik itu secara ucapan, perbuatan, perlakuan, lahir maupun batin, itulah yang disebut sebagai sebesar-besarnya pendusta. Naudzubillah. 

Baca juga : UAS Hadiahkan Pesantren untuk Sang Istri? Ini Faktanya

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA