Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Monday, 20 Safar 1443 / 27 September 2021

Peran Wanita Makkah dalam Perdagangan Era Nabi Muhammad

Senin 03 May 2021 04:19 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Peran Wanita Makkah dalam Perdagangan Era Nabi Muhammad. Foto:   Ilustrasi Sahabat Perempuan Nabi

Peran Wanita Makkah dalam Perdagangan Era Nabi Muhammad. Foto: Ilustrasi Sahabat Perempuan Nabi

Foto: Pixabay
Wanita Makkah berperan dalam perdagangan di era Nabi Muhammad.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Aktivitas dagang yang digeluti masyarakat Quraisy Makkah tak hanya terbatas pada laki-laki. Terdapat juga pebisnis-pebisnis wanita yang sukses dan mempekerjakan laki-laki, contohnya adalah Sayyidah Khadijah.

Pakar Ilmu Tafsir Prof Quraish Shihab dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW menjelaskan, selain sosok Sayyidah Khadijah yang dikenal sebagai wanita pebisnis sukses, terdapat juga nama lainnya seperti Al-Hanzhaliyah ibu dari Abu Jahal.

Baca Juga

Baik Sayyidah Khadijah maupun Al-Hanzhaliyah merupakan dua sosok pebisnis yang populer. Beberapa riwayat bahkan menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah memberi petunjuk kepada perempuan tentang jual beli.

Salah seorang di antaranya adalah adalah Qiat yang diberi petunjuk oleh Rasulullah SAW menyangkut penetapan harga. Nabi bahkan perpesan kepadanya: “Apabila engkau ingin membeli atau menjual sesuatu, maka tetapkanlah harga yang engkau inginkan untuk membeli atau menjualnya. Baik kemudian engkau diberi ataupun tidak,”. Maksudnya adalah dalam menetapkan harga, tidak perlu bertele-tele dalam berjual-beli. Demikian disebutkan dalam Thabaqat Ibnu Sa’d.

Keterlibatan perempuan dalam dunia perdagangan juga dapat dilihat dalam Alquran Surah An-Nisa ayat 32: “Lirrijaali nashibun mimmaaktasabu walinnisaa-I nashibun mimmaaktasabu,”. Yang artinya: “Bagi para lelaki hak memperoleh bagian dari hasil usaha mereka dan bagi perempuan juga hak memperoleh bagian dari hasil usaha mereka,”.

Dijelaskan pula bahwa di era Abdul Muthallib, Kota Makkah mengalami kemajuan yang sangat berarti. Apalagi dengan semakin banyaknya masyarakat non-Arab yang bermukim di sana karena melarikan diri dari penindasan di tempat asal mereka. Seperti dari Byzantium, Persia, Habasyah, dan Mesir. Dengan pesatnya kemajuan perdagangan itu, maka muncul juga lah perempuan-perempuan pebisnis yang andal di Makkah.

 

 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA