Sabtu 01 May 2021 13:19 WIB

Kebakaran Rumah Sakit India Tewaskan 18 Pasien Covid-19

Kebakaran terjadi tengah kondisi India dihantam badai Covid.

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah
Kebakaran/ilustrasi
Foto: pixabay
Kebakaran/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Kebakaran di bangsal rumah sakit Covid-19 di India menewaskan 18 pasien pada Sabtu (1/5) pagi waktu setempat. Polisi mengatakan, kebakaran terjadi di lantai dasar dan berhasil dipadamkan dalam waktu satu jam. "Penyebab kebakaran tengan diselidiki," kata polisi.

Sekurangnya 31 pasien lain di Rumah Sakit Kesejahteraan di Bharuch, negara bagian Gujarat, berhasil diselamatkan oleh pekerja rumah sakit dan petugas pemadam kebakaran. "Para pasien yang selamat dalam kondisi stabil," ujar petugas polisi BM Parmar. Namun nahas, 18 pasien lainnya tewas dalam kobaran api dan asap sebelum tim penyelamat membantu para korban.

Baca Juga

Pada 23 April, kebakaran di unit perawatan intensif juga menewaskan 13 pasien Covid-19 di daerah Virar di pinggiran Mumbai. Kebakaran terjadi di tengah lonjakan kasus Covid-19 yang semakin hari mencatatkan rekor.

Pada Sabtu (1/5), India kembali  mencetak rekor global dengan 401.993 kasus baru sehingga menambah penghitungan secara total menjadi lebih dari 19,1 juta kasus. Sementara 3.523 orang meninggal karena Covid-19 dalam 24 jam terakhir.

Menghadapi lonjakan kasus yang memenuhi rumah sakit dan krematorium, pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi menggambarkan pandemi sebagai "krisis sekali dalam satu abad". Modi kemudian mengadakan pertemuan Kabinet pada Jumat untuk membahas langkah-langkah menyelamatkan sistem kesehatan negara yang runtuh.

Pemerintah akan menambahkan tempat tidur rumah sakit, menyelesaikan masalah dalam produksi, penyimpanan dan pengangkutan oksigen serta mengatasi kekurangan obat-obatan esensial. Pemerintah pada Sabtu (1/5) mengubah kampanye vaksinasi yang goyah dengan mengatakan semua orang dewasa berusia 18 tahun ke atas sedang disuntik.

Sejak Januari, hampir 10 persen orang India telah menerima satu dosis. Namun hanya sekitar 1,5 persen yang menerima keduanya. Padahal India adalah salah satu produsen vaksin terbesar di dunia.

Beberapa negara bagian telah mengatakan bahwa mereka tidak memiliki dosis yang cukup untuk semua orang. Bahkan upaya yang sedang berlangsung untuk menyuntik orang di atas usia 45 tahun gagal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement