Semangat Difabel Mengisi Ramadhan

Rep: Andrian Saputra/ Red: A.Syalaby Ichsan

 Jumat 30 Apr 2021 17:36 WIB

Sejumlah penyandang disabilitas netra membaca Alquran braille di Yayasan Al Hikmah, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Ahad (18/4). Foto: Republika/Bayu Adji P Sejumlah penyandang disabilitas netra membaca Alquran braille di Yayasan Al Hikmah, Kelurahan Kahuripan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, Ahad (18/4).

para penyandang tunanetra juga antusias dalam mengikuti tadarus nasional

REPUBLIKA.CO.ID, Ramadhan 1442 H jadi momentum bagi setiap Muslim untuk berlomba-lomba mengerjakan amal kebaikan. Begitupun  para penyandang disabilitas yang tetap bersemangat mengisi Ramadhan dengan segudang aktivitas dan ibadah.

Sebagaimana dilakukan para anggota Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) yang antusias dalam mengikuti program Kegiatan Kemuliaan Ramadhan Bersama Alquran (Kurma ITMI). Program ini telah bergulir sejak awal Ramadhan yang berisi serangkaian kegiatan di dalamnya. 

Sekretaris Jenderal ITMI, Yogi Matsoni menjelaskan sejak awal Ramadhan ITMI telah menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dengan kategori Murotal dan Mujawaz. MTQ ini diikuti para anggota ITMI yang berusia 15-30 tahun dengan menggunakan Alquran braille. Kegiatan ini sukses hingga selesai pada 18 April.

ITMI juga menyelenggarakan webinar Muslimah pada 24 April, serta webinar metode praktis belajar Alquran braille pada 29 April. Selain itu, jelas Yogi, para penyandang tunanetra juga antusias dalam mengikuti tadarus nasional yang diselenggarakan virtual berpusat di Bandung dan Jakarta dan disiarkan melalui daring. Sejauh ini ada sekitar 100 peserta yang mengikuti tadarus nasional.

"Melalui MTQ dan juga tadarus ini motivasi untuk menghafal dan mengkhatamkan Alquran. Bahkan anggota ITMI daerah-daerah, ada juga yang membuat tadarus melalui WA, Telegram. Setiap hari ada yang baca lima ayat, nanti disambung dengan yang lainnya. Dan sekarang sudah pertengahan Alquran," jelas Yogi kepada Republika beberapa waktu lalu.

Menurut Yogi banyak hikmah yang diperoleh dari berbagai kegiatan ITMI yang dilaksanakan secara virtual itu. Salah satunya adalah dapat lebih mendekatkan para penyandang disabilitas dengan kemajuan teknologi komunikasi. Meski diakuinya terdapat kendala ketika terjadi putus signal, bacaan para penyandang tunanetra sering tak terdengar.

Menurut Yogi, penyandang tunanetra yang belajar membaca dan menghafal Alquran bertambah dibanding tahun lalu. Sejauh ini sudah ada 20 orang tunanetra dewasa yang mampu menghafalkan Alquran. Itu belum termasuk anak-anak tunanetra yang juga banyak menghafal Alquran. Yogi mengatakan para anggota ITMI senantiasa diberikan motivasi agar terus menjaga semangat menghafal dan mengkhatamkan Alquran di bulan Ramadhan, yakni  dengan memaknai surat Taha 124 dan Al Mulk 23. 

"Dengan adanya ayat seperti ini jangan sampai kita buta dua kali. Tapi bagaimana kita tidak buta di akhirat, yaitu degan terus belajar mentadaburi Alquran. Kita maksimalkan, yang punya penglihatan jangan maksiat tapi coba lihat Alquran, yang punya pendengaran dengarkan Alquran, dan gunakan hati untuk melatih kepekaan pada Alquran," kata dia.

Semangat mengisi Ramadhan juga sangat terasa di Pondok Pesantren Tunarungu Darul Ashom. Di pesantren ini para santri tetap bersemangat mengikuti berbagai kegiatan pesantren meski tengah berpuasa. Pimpinan pesantren Ustaz Abu Kahfi mengatakan selepas subuh para santri akan mengikuti setoran hafalan baru. Kegiatan disambung pada waktu dhuha dengan murojaah. Siang hari santri mengikuti kajian hadis. 

Pada sore hari diisi dengan kajian fiqih dan bahasa. Kegiatan akan kembali berlangsung setelah berbuka puasa dan shalat tarawih yaitu para santri mengisinya dengan mencari hafalan baru serta tadarus Alquran. 

Ustaz Abu menjelaskan tadarus khataman Alquran dilakukan masing-masing santri. Diharapkan santri dapat mengkhatamkan Alquran selama Ramadhan tahun ini. "Mungkin karena anak-anak itu sudah terlatih berpuasa Senin Kamis jadi ketika Ramadhan ini mereka biasa, tidak terlalu banhak perubahan. Hanya saja memang lebih meriah karena banyak orang-orang yang mengajak santri di sini berbuka puasa bersama," tutur ustaz Abu Khafi. 

Ustaz Abu menjelaskan banyak warga yang bersedekah dengan mengajak para santri Darul Ashom berbuka puasa bersama. Kebanyakan warga datang ke pesantren dan menggelar buka puasa bersama santri. Meski ada juga yang mengundang para santri untuk datang ke hotel dan mengikuti buka puasa bersama. Biasanya acara buka bersama itu diisi dengan tausiyah dan pembacaan Alquran.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X