Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Lima Klaster Baru Muncul Terkait Bulan Puasa

Sabtu 01 May 2021 00:01 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Andi Nur Aminah

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Dirjen P2P) Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Dirjen P2P) Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi.

Foto: DOk BNPB
Kemungkinan terjadi super spreader di lima wilayah tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi mengatakan selama Ramadhan, muncul lima klaster Covid-19 baru. Kelima klaster tersebut adalah klaster perkantoran, klaster buka bersama, klaster tarawih di Banyumas, klaster mudik di Pati, dan klaster takziah di Semarang.

"Kemungkinan terjadinya super spreader di wilayah ini, dikarenakan interaksi yang tidak dijalankan dengan protokol kesehatan yang ketat, sehingga menyebabkan kasus positif di berbagai klaster," kata Nadia, dalam telekonferensi, Jumat (30/4).

Baca Juga

Terkait kasus di Banyumas, ia menjelaskan terjadi kelalaian protokol kesehatan dalam melaksanakan ibadah tarawih berjamaah. Berdasarkan informasi yang didapatkan, di Banyumas terdapat 51 kasus positif setelah pelaksanaan sholat tarawih.

Sebanyak 51 orang tersebut, sholat di dalam dua masjid yang berbeda. Adanya kasus positif ini disebabkan oleh seorang jamaah yang sudah positif dan merasa sakit, namun tetap berangkat ke masjid. Menurut Nadia, hal seperti ini sangat disayangkan dan harusnya tidak terjadi.

Nadia menegaskan, masyarakat yang merasa sakit sebaiknya menunda ibadah berjamaah ke masjid. "Ini menjadi perhatian kita, bahwa kita sudah tahu bahwa ini demi keselamatan kita bersama. Pemerintah sudah memberikan sedikit relaksasi untuk kita melakukan ibadah, tetapi kita harus lakukan protokol kesehatan ketat," kata dia.

Selain itu, klaster buka bersama disebabkan banyaknya masyarakat yang melakukan aktivitas tersebut. Nadia menegaskan, buka bersama bisa dilakukan namun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Biasanya, Covid-19 menular dalam aktivitas ini ketika orang mengobrol saat buka bersama.

"Pada prinsipnya, berbicara pada saat makan bersama menjadi faktor yang sangat memungkinkan terjadinya penularan virus Covid-19, dan ini yang tidak kita inginkan," ujar Nadia.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA