Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Studi Sebut Ada 220 Ribu Gletser Terdampak Pemanasan Global

Jumat 30 Apr 2021 18:12 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih

Gletser mencair (ilustrasi)

Gletser mencair (ilustrasi)

Foto: REUTERS
Gletser sangat sensitif terhadap fluktuasi suhu yang ditimbulkan oleh fenomena ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru mengungkapkan bahwa gletser Bumi telah kehilangan sejumlah besar es selama dua dekade terakhir. Laju kehilangan ini pun dilaporkan terjadi semakin cepat dari waktu ke waktu.

Data satelit yang digunakan untuk melacak kondisi tersebut menunjukkan ada sekitar 220.000 gletser yang terdampak efek pemanasan iklim global. Pada dasarnya, gletser merupakan massa es padat yang terbentuk dari daratan tumpulkan salju, kemudian ini menuruni bukit di bawah pengaruh beratnya sendiri.

Benda-benda beku tersebut dianggap sebagai indikator yang sangat baik untuk melihat perubahan iklim. Gletser sangat sensitif terhadap fluktuasi suhu yang ditimbulkan oleh fenomena ini.

Dilansir New Atlas, studi kerap merinci efek perubahan iklim pada gletser. Termasuk bagaimana air lelehan dari benda beku ini memperburuk kenaikan permukaan laut di Bumi.

Selama ini, penelitian seringkali berfokus pada gletser atau wilayah tertentu. Karena itu, dalam studi terbaru yang dilakukan, pemahaman lebih besar mengenai penyusutan gletser dipelajari dengan menganalisis data datelit dari seluruh gletser di dunia.

Tim peneliti mengambil data tentang sekitar 220.000 gletser yang dikumpulkan oleh satelit Terra milik Badan Antariksa Amerika (NASA) yang merinci perubahan massa dan ketebalan gletser selama dua dekade terakhir.

Terra dilengkapi dengan kamera pencitraan multi-spektral yang mampu menghasilkan citra stereo resolusi tinggi dan mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 79 kilometer (49 mil) di atas permukaan. Ini memungkinkan untuk menyelesaikan orbit planet sekali setiap 100 menit.

Selama 18 bulan, para peneliti menganalisis data dengan bantuan superkomputer di University of Northern Britis Columbia, Kanada. Tim kemudian menemukan bahwa gletser Bumi kehilangan rata-rata 267 miliar ton (gigaton) es per tahun, antara 2000 dan 2019.

Air lelehan dari gletser diperkirakan menyumbang 21 persen dari kenaikan permukaan laut yang tercatat selama periode ini. Selain itu, ditemukan bahwa laju kehilangan es semakin cepat secara signifikan.

Dari 2000 hingga 2004, es hilang dengan kecepatan rata-rata sekitar 227 gigaton per tahun. Namun, dari 2015 hingga 2019, tingkat kehilangan rata-rata meningkat menjadi 298 gigaton. Banyak gletser yang paling cepat mencair terletak di daerah pegunungan seperti Himalaya dan Alpen.

"Situasi di Himalaya sangat mengkhawatirkan. Selama musim kemarau, lelehan glasial merupakan sumber penting yang memberi makan saluran air utama seperti sungai Gangga, Brahmaputra dan Indus,”  ujar Romain Hugonnet, penulis utama studi dan peneliti di ETH Zurich dan Universitas Toulouse Prancis.

Hugonnet mengatakan jika penyusutan gletser Himalaya terus meningkat, negara-negara di sekitarnya yang padat penduduk seperti India dan Bangladesh dapat menghadapi masalah kekurangan air dan makanan dalam beberapa dekade. Sementara sebagian besar gletser kehilangan massa es, ada beberapa pengecualian dalam hal ini.

Menurut studi, ada gletser di daerah tertentu yang dapat menambah massa es. Pengecualian ini disebabkan oleh peristiwa cuaca yang ganjil.

Ke depannya, penelitian ini akan digunakan untuk membantu menginformasikan para pemimpin dunia tentang keadaan gletser Bumi. Termasuk juga mengenai potensi konsekuensi dari penurunan yang berkelanjutan. Makalah tentang studi ini diterbitkan di jurnal Nature.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA