De Malond Resto, Pelopor Sajian Berbagai Olahan Daging Malon

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

 Jumat 30 Apr 2021 03:38 WIB

Berbagai olahan daging manuk londo (Malon). Foto: Istimewa Berbagai olahan daging manuk londo (Malon).

Restoran yang menyajikan berbagai olahan daging malon sulit ditemukan di Bandung.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Beberapa bulan terakhir usaha cafe dan resto di Kota Bandung mulai kembali menggeliat. Bahkan, banyak bermunculan cafe-cafe baru yang semakin meramaikan persaingan kuliner Kota Kembang.

Restoran yang menyajikan menu ayam dengan berbagai olahannya, sudah bertebaran di Kota Bandung. Begitu juga, dengan restoran yang menyajikan menu bebek, sangat mudah ditemui di Bandung sebagai syurganya makanan.

Namun, restoran yang menyajikan berbagai olahan daging manuk londo (Malon), sangat sulit ditemukan di Bandung. Rupanya, hal tersebut bagi Owner De Malond Resto, Yovita Liza, merupakan sebuah peluang. 

Yovita melihat, masyarakat memang sangat menyukai ayam. Tapi, saat ini, restoran yang menyajikan ayam dan bebek sudah sangat banyak. Sementara, yang menyajikan menu Malon belum ada pemainnya.

"Persaingan di ayam dan bebek juga memang semakin sengit dengan makin banyaknya cafe dan resto.  Akan tetapi, dengan mulai menggeliatnya pasar, kami tetap optimistis," ujar Yovita kepada wartawan, saat ditemui di restonya yang terletak di Jln Bengawan, Bandung, Kamis (29/4).

Yovita mengatakan, dalam kondisi persaingan yang semakin ketat, kreativitas dan inovasi produk akan sangat menentukan kesuksesan bisnis cafe dan resto pada periode pemulihan ekonomi ini. Faktor penentu lain adalah adaptasi pemasaran online.

"Kami sendiri di De Malond Resto memilih untuk menghadirkan varian kuliner malon yang masih jarang ditemukan di Kota Bandung," katanya.

Malon, kata dia, menjadi alternatif pengganti ayam dengan tekstur yang lebih empuk dan rasa yang lebih gurih. Selain masih jarang, penggemar malon pun menurut Yovita semakin banyak.

"Saya punya resto lain di rest area, di sana malon menjadi best seller. Konsumen Jakarta banyak yang menyukai daging burung ini," kata Yovita. 

Dengan menyajikan beragam olahan malon yang unik, Yovita mengaku, optimistis bisa merebut pasar kuliner Bandung. Apalagi, dengan tingginya rasa penasaran masyarakat Bandung terhadap produk kuliner baru.

"Pasar juga semakin menggeliat, baik secara offline maupun online," katanya.

Yovita mengatakan, restonya baru sebulan di buka. Tapi, antusiasme masyarakat cukup baik. Karena, ia menyajikan berbagai olahan Malon. Tepatnya, ada sekitar 10 menu yang sebelumnya tak pernah ada di restoran lain. Yakni, dari mulai Malon geprek, Malon cabai garam, Malon bakar, Malon lada hitam, Malon Salted Egg dan lainnya.

"Harga berbagai olahan menu Malon ini relatif terjangkau. Tapi, pecinta ayam yang bosan bisa menikmati sensi baru memakan daging Malon yang lembut dan kolesterolnya rendah ini," katanya.

Sementara menurut Chef De Malond Resto, Nanang, tak semua orang bisa mengolah daging Malon. Restonya, memiliki cara khusus untuk mengolah daging Malon menjadi makanan yang lezat, lembut dan tak bau amis.

"Kalau tak bisa mengolah dengan baik, daging akan tercium bau amis atau alot," katanya.

Nanang pun, memberikan tips bagaimana mengolah daging Malon. Yakni, sebelum diberi bumbu daging direbus terlebih dahulu. Kemudian, baru diungkep kembali bersama bumbu rempah-rempah dan diolah sesuai menu pilihan. Hasilnya, daging Malon berbagai varian menu siap memanjakan lidah Anda. Tertarik? 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X