Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

Tuesday, 5 Zulqaidah 1442 / 15 June 2021

MES Fokus Seimbangkan Ekonomi dan Ciptakan Lapangan Kerja 

Kamis 29 Apr 2021 18:43 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolandha

Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang juga Menteri BUMN Erick Thohir

Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) yang juga Menteri BUMN Erick Thohir

Foto: Republika
MES pastikan basis pergerakan produksi dikembalikan ke desa dan pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) fokus menciptakan lapangan kerja di ekosistem ekonomi syariah. Ketua Umum MES, Erick Thohir menyampaikan MES komitmen melakukan dua hal yang terpenting, yakni keseimbangan ekonomi antara kaya, miskin, besar, menengah dan pembukaan lapangan kerja.

"Itu tidak mungkin hanya didasari oleh peran pemerintah, tetapi tentu peran masyarakat semua secara menyeluruh, karena itu sejak awal empat program unggulan dari MES adalah tidak muluk-muluk yakni fokus pada hal itu," katanya saat Peluncuran Indeks IDX MES-BUMN 17, Kamis (28/4).

Baca Juga

Pertama, memastikan basis pergerakan produksi dikembalikan ke desa dan pesantren. Ini menjadi bagian penting, karena itu MES telah melakukan kerja sama dengan Pertamina. MES diberikan kesempatan menjadi kurator untuk pembukaan 1.000 Pertashop dengan 1.000 pesantren yang akan dikerjasamakan dalam satu tahun ini.

Tidak hanya pesantren, MES juga memastikan 1.000 desa yang akan dikerjasamakan. Erick mengatakan dari sisi pembiayaan, Bank Syariah Indonesia (BSI) sudah siap mendukung. Kedua, fokus untuk pengembangan industri halal baik di dalam maupun di luar negeri.

"Kita sebagai negara penduduk Islam yang terbesar di dunia tentu harus bisa bangkit, bagaimana supply chain industri halal harus mulai kita perbaiki dan berbasis di Indonesia bukan di negara lain," katanya.

Rantai pasok halal ini diharap dapat membawa pada keseimbangan ekonomi yang diinginkan. Ketiga, fokus pada program finansial syariah seperti yang dilakukan hari ini yakni meluncurkan indeks syariah baru untuk acuan pasar.

Keempat, terkait dengan investasi di daerah. Program-program Pengurus Pusat akan dijaga tetapi program lainnya dari strategi masing-masing komite dan pemimpin-pemimpin daerah tidak terbatas. Pengembangannya bisa dilakukan sesuai dengan potensi dari daerah masing-masing.

"Karena kita tahu masing-masing daerah punya keunggulan yang berbeda, tidak mungkin komite Fintech memaksakan harus bekerja sama dengan daerah Gorontalo misalnya yang mungkin lebih pasti di sana untuk pembangunan pertaniannya," katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA