Gubernur Jateng Imbau Maysarakat tak Mudik

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Muhammad Hafil

 Kamis 29 Apr 2021 08:00 WIB

Gubernur Jateng Imbau Maysarakat tak Mudik. Foto: Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat memberikan penjelasan perihal uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap kedua di Jawa Tengah, di ruang kerjanya, Senin (26/4). Belaajar dari evaluasi uji coba PTM tahap pertama, gubernur mengizinkan sekolah penyelenggara uji coba PTM di Jawa Tengah menambah jumlah kelas. Foto: ISTIMEWA Gubernur Jateng Imbau Maysarakat tak Mudik. Foto: Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat memberikan penjelasan perihal uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) tahap kedua di Jawa Tengah, di ruang kerjanya, Senin (26/4). Belaajar dari evaluasi uji coba PTM tahap pertama, gubernur mengizinkan sekolah penyelenggara uji coba PTM di Jawa Tengah menambah jumlah kelas.

Masyarakat diimbau Gubernur Jateng tak mudik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo mengimbau masyarakat agar tidak mudik. Dia mengingatkan agar jangan sampai Indonesia mengikuti lonjakan kasus covid-19 seperti di India karena momentum mudik hari raya Idul Fitri 2021.

"Garis finish sudah kelihatan di depan. Jika kita lengah dan tidak disiplin, kita akan balik lagi, bukan ke arah finish melainkan ke arah penyesalan," kata Ganjar dalam webinar, Rabu (28/04).

Ganjar menilai bahwa kasus aktif Covid-19 di Indonesia saat ini sudah bagus menyusul kurva kasus penularan virus Corona tengah mengalami penurunan. Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu mengibaratkan kasus Covid-19 di Indonesia sudah mendekati garis finish.

"Pada tanggal 6 hingga 17 Mei diadakan peniadaan mudik yang dilakukan oleh posko terpadu, tiada mudik bagimu. Stop Mudik! Tekan Turun Laju Covid-19," tegasnya.

Ganjar mengatakan momentum lebaran jangan sampai terjadi seperti di India. Di India kurva kasus Covid-19 dan jumlah kematian terus meroket akibat dua kejadian, kegiatan keagamaan dan kegiatan politik. Dia mengatakan bahwa tidak masalah tidak melakukan mudik pada hari raya selama dua tahun.

Dia menjelaskan, bertemu dengan keluarga maupun orang tua dapat dilakukan bukan pada konteks mudik hari raya. Dia mengatakan, kalau konteksnya mudik hari raya maka beramai-ramai pulang ke kampung menjelang lebaran akan ada jutaan orang akan pulang di tengah masa pandemi.

Kabag Ops Korlantas Polri Kombes Pol. Rudi Anariksawan mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi masyarakat yang akan mudik pada hari raya lebaran. Dia mengatakan, antisipasi dilakukan dengan pencegatan baik dijalur jalan tol, jalan arteri, dan jalan alternatif.

"Kami juga melakukan pencegatan selama 24 jam di jalan-jalan tikus," katanya.

Dia menambahkan pencegatan bukan hanya bagi kendaraan roda empat, melainkan juga kendaraan roda dua. Dia mengatakan, masyarakat yang kedapatan mudik maka akan diputar-balikkan untuk kembali ke asal.

"Kami belajar dari hari raya tahun lalu, jika pemudik lolos di pos pencegatan pertama, maka tidak akan lolos di pos pencegatan selanjutnya," katanya.

Ketua Bidang Data dan IT Satgas Covid-19, Dewi Nur Aisyah mengatakan ada korelasi kuat antara mobilitas dan libur panjang dengan peningkatan kasus aktif Covid-19. Pelaksanaan libur panjang mengakibatkan kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia.

Dia mengatakan, dengan adanya libur panjang maka kenaikan kasus Covid-19 terjadi pada 10-14 hari setelah libur panjang. "Dampak kenaikan kasus terlihat minimal selama 3 pekan, setelah libur panjang," katanya.

Dia menjabarkan kenaikan kasus Covid-19 pada libur Idul Fitri tanggal 22-25 Mei tahun 2020 yang berdampak kenaikan kasus pada 6-28 Juni 2020. Kenaikan rata-rata jumlah kasus harian setelah Idul Fitri 2020 sebanyak 68 hingga 93 persen.

"Perkembangan angka kematian cenderung mengikuti jumlah penambahan kasus, semakin tinggi penambahan jumlah kasus berisiko meningkatkan jumlah kematian," terangnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X