Alquran Turun Malam Lailatul Qadar atau 17 Ramadhan?

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 28 Apr 2021 16:46 WIB

Alquran Turun Malam Lailatul Qadar atau 17 Ramadhan?. Foto: Ilustrasi Nuzulul Quran Foto: Foto : MgRol_93 Alquran Turun Malam Lailatul Qadar atau 17 Ramadhan?. Foto: Ilustrasi Nuzulul Quran

Malam ke-17 Ramadhan disebut juga dengan Nuzulul Quran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Puasa sudah memasuki malam ke-17 atau sering disebut nuzulul quran. Beberapa atau bahkan kebanyakan orang sering bertanya; “Sebenernya, Alquran itu turun malam lailatul qadar apa tanggal 17 ramadhan?

Ustaz Ahmad Zarkasih Lc dalam bukunya "Meraih Lailatul Qadar, Haruskah Itikaf" menjelaskan tentang “nuzulul quran” yang diambil dari beberapa kitab yang menerangkan tentang masalah ini.

Ustaz Ahmad mengatakan, ulama menyebut metode turunnya Alquran dalam kitab-kitab mereka dengan istilah kaifiyah al-Tanzil. Dalam kitabnya al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an, Imam Badruddin al-Zarkasyi menyebut setidaknya ada 3 pendapat soal kaifiya Tanzil ini.

"Dan ketiganya adalah pendapat yang terekam dalam banyak kitab-kitab ulama tentang ilmu quran," katanya.

Pertama, Alquran turun dengan ayat yang lengkap semuanya ketika malam lailatul-Qadr ke bait-al-Izzah atau langit dunia dari al-Lauh al-Mahfudz. Kemudian turun secara berangsur-angsur melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama 20 atau 23 tahun kemudian dimulai dengan 5 ayat pertama al-‘Alaq.

Kedua, Al-Quran turun secara berangsur ke langit dunia (bait al-Izzah) di 20 atau 23 malam lailatul Qadr selama 20 atau 23 tahun tersebut. Barulah setelah semuanya lengkap di langit dunia, Jibril
menurunkannya berangsuran kepada Nabi Muhammad SAW selama 20 atau 23 tahun.

Ketiga, Alquran turun langsung kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsuran selama lebih dari 20 tahun dan dimulai di malam lailatul-Qadr. Dan dari tiga pendapat tersebut, pendapat yang banyak dipegang oleh Jumhur Ulama, yaitu pendapat pertama:

Bahwa Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul Qadr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi SAW setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafat beliau.

"Banyak para ulama yang mengatakan bahwa pendapat inilah yang setidaknya bisa diterima dengan bentahan yang minim," katanya.

Pendapat ini karena berdasar kepada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam mustadrok-nya dengan sanad yang shohih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma.

Beliau mengatakan bahwasanya Alquran itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qodr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudia ia mambaca surah Al-Furqan ayat 33.

"Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik."

Dalam surah Al-Isra ayat 106 Allah SWT berfirman. "Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian."

Imam An-Nasa’I juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:“……dan Al-qur’an diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad SAW"

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X