Kisah Puasa Ramadhan dari Aktivis Vegan

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 28 Apr 2021 13:38 WIB

Kisah Puasa Ramadhan dari Aktivis Vegan. Foto: Makanan vegan Foto: Needpix Kisah Puasa Ramadhan dari Aktivis Vegan. Foto: Makanan vegan

Aktivis vegan mengatur pola makannya saat puasa Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI—Pandemi bukan hanya membawa pukulan keras bagi seluruh dunia, namun juga memaksa seluruh orang untuk beradaptasi dengan pola hidup ‘New Normal’, yang ternyata membiasakan kebiasaan yang sehat, salah satunya diet vegan.

Tumbuhnya kesadaran untuk menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh membuat menjamurnya aktivis-aktivis dan gerakan vegan.
Altab Hossain, seorang aktivis hak-hak hewan berusia 33 tahun dari Kolkata, India, mengatakan, mulai terbiasa dengan pola makan bebas bahan hewani untuk lebih menghargai hidup.

Baca Juga

Ketika ditanya tentang makanan buka puasa favoritnya, pendiri Gerakan Vegan India ini mengatakan sangat menyukai chana masala, hidangan kacang polong, juga Haleem, sejenis sup yang biasanya terdiri dari daging, lenlil dan gandum, yang telah dia modifikasi dengan bahan-bahan non-hewani.

Dawud Marsh, 55, dari London Timur, telah menjadi vegan selama 35 tahun dan menjadi Muslim 14 tahun lalu. Dia biasanya menikmati samosa dan pattes vegan rumahan sebagai santapan saat Ramadhan.

“Istri saya adalah orang Mauritian dan biasa menggunakan pilihan bahan-bahan yang "diiris halus" dan "segar". Untuk sahur, makan pagi sebelum matahari terbit, dia biasanya memilih bubur dengan bubur mangga,” ujarnya, menambahkan bahwa dia sangat bersyukur memiliki keluarga yang menerima veganisme dan Islamnya.

Bagi yang lain, seperti Ahed Kayed, 22, seorang mahasiswa nutrisi dari Nablus, menjadi vegan membawa perubahan luar biasa untuk kesehatannya. "Makanan tidak sehat bukanlah vegan, jadi pada dasarnya, saya jauh dari itu," katanya.

Meski begitu, budaya vegan belum sepenuhnya dipahami oleh banyak orang, terutama Muslim yang hampir selalu menyertakan bahan hewani dalam setiap sajiannya. Ahlam Tarayra adalah seorang Muslim budaya dan anggota komite pengarah Vegan untuk BDS menceritakan pengalamannya saat berbuka bersama dengan pamannya.

Salah satu pendiri Baladi, atau Tim Penyelamat Hewan Palestina ini mengatakan bahwa sebagian besar keluarganya telah mengetahuinya sebagai vegan, saat itu dia disajikan zukini bebas daging, namun ternyata makanan itu dimasak bersama zukini isi daging, yang membuat zukini miliknya sedikit banyak juga tercampur dengan daging. Akhirnya membuatnya tidak bisa dimakan.

Lina Hage, 31, dari Calgary, Kanada menemukan beberapa kerabat Muslim non-vegan bahkan mengkritik gaya hidupnya. Mereka percaya dia "menantang Allah" karena, dalam aturan tertentu, daging dan produk hewani lainnya umumnya dianggap diperbolehkan dalam Islam, dan menghindari apa yang dibolehkan sama halnya dengan mengingkari nikmat dari Allah SWT. Gagasan tersebut tentu dianggap Hage sebagai kekeliruan dan jauh dari kebenaran.

Tarayra percaya veganisme lebih selaras dengan prinsip di balik bulan suci yang, jelasnya, adalah disiplin diri dan empati bagi orang miskin. Sejak menjadi vegan, Tarayra telah menemukan bahwa, "makanan tidak terasa [seperti itu] masalah lagi… Ini bukan sesuatu yang membuat Anda terobsesi. Ini seperti bagian normal dari hidup Anda dan memberinya kemampuan untuk melakukan lebih banyak kendali.”

“Saya tidak berpikir adil untuk menghadiahi diri sendiri [dengan] darah hewan lain hanya karena Anda berpuasa," katanya.

Muslim vegan juga umumnya mengambil gagasan bahwa daging diperbolehkan secara langsung dengan alasan bahwa keadaan telah berubah sejak zaman Nabi. Misalnya, banyaknya praktik penyembelihan atau pemotongan hewan yang jauh dari tata cara yang Islami.

“Kita hidup pada masa ketika anak ayam jantan berumur sehari dimaserasi, atau tergencet sampai mati, dan anak sapi jantan berumur seminggu disembelih karena tidak dapat menghasilkan telur atau susu,” kata Hussain.

“Jika Nabi Muhammad masih hidup hari ini, dia akan mendorong veganisme mengingat kebrutalan pertanian baterai modern,” sambungnya.

Hossain percaya bahwa Nabi adalah pembela hak-hak hewan terbaik dalam sejarah umat manusia. Seperti saat Nabi menginstruksikan sahabatnya untuk tidak membebani unta mereka secara berlebihan, menegur mereka karena menghancurkan sarang semut, dan sebagainya.

“Untuk alasan ini, ditambah faktor kesehatan dan lingkungan, Anda harus menjadi vegan untuk hidup dengan pesan Islam yang benar, pesan sejati Nabi," kata Hossain, menambahkan bahwa veganisme bahkan lebih penting selama Ramadhan, ketika umat Islam berusaha menjadi lebih bermoral.

Menurut Tarayra, mengadopsi gaya hidup vagan dapat membuat seseorang lebih reflektif tentang segala hal yang dia lakukan dan dampaknya bagi makhluk hidup lain dan lingkungannya.
“Oleh karena itu, pada saat banyak orang takut akan masa depan planet ini, Ramadan vegan mungkin tampak menarik, meskipun tidak selalu mudah,” ujarnya.

sumber : Alarabiya
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X