Muslim Berlin Jalani Tes Swab Sebelum Sholat Tarawih

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 28 Apr 2021 08:00 WIB

Komunitas Muslim di Berlin harus melakukan tes swab sebelum masuk masjid dan menjalankan sholat tarawih. Foto: Daily Mail Komunitas Muslim di Berlin harus melakukan tes swab sebelum masuk masjid dan menjalankan sholat tarawih.

Muslim Berlin harus melakukan tes swab sebelum sholat tarawih.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Komunitas Muslim di Berlin harus melakukan tes swab sebelum masuk masjid dan menjalankan sholat tarawih. Tes ini dilakukan di luar masjid Berlin.

Tim medis disiapkan berjaga di lokasi pengujian di luar masjid. Hal ini merupakan bagian dari dorongan pihak berwenang ibu kota Jerman, untuk meningkatkan kesadaran atas Covid-19 di kalangan Muslim, selama bulan suci Ramadhan, dan di antara populasi migran secara umum.

Duduk di belakang meja pengujian adalah staf yang terdiri dari orang Libya, Suriah dan Armenia. Mereka melakukan pengujian ini gratis bagi jamaah yang telah berbaris dengan sajadah mereka sendiri.

Salah satu umat Muslim yang menjalani tes ini adalah Imam Abdallah Hajjir. Ia mengatakan, upaya mendorong jamaah untuk melakukan uji Covid-19 adalah salah satu cara untuk berkontribusi dalam memerangi pandemi.

"Dengan melindungi anggota komunitas kami, ini sama dengan melindungi yang berhubungan dengan mereka atau masyarakat secara keseluruhan," katanya dikutip di Daily Mail//, Rabu (28/4).

Sekitar 35 persen penduduk Berlin memiliki latar belakang migran. Lingkungan dengan proporsi migran tertinggi ini telah mencatat jumlah kasus Covid-19 tertinggi sejak pandemi dimulai setahun lalu.

Mereka yang terpapar Covid-19 biasanya tinggal daerah dengan kepadatan penduduk di atas rata-rata. Banyak imigran tinggal berdekatan di apartemen kecil atau di pusat suaka, di mana hingga lima orang terkadang berbagi satu kamar.

Oktober lalu, Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) membunyikan alarm dan mengatakan pekerja migran berada di "garis depan" pandemi, utamanya di negara maju.

OECD, yang terdiri dari sekitar 40 negara yang sebagian besar kaya, memperkirakan risiko infeksi virus Covid-19 setidaknya dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan populasi negara tersebut.

Di Jerman, seperti tempat lainnya, orang dengan latar belakang asing cenderung dipekerjakan dalam lingkungan yang tidak dapat dilakukan dari jarak jauh. Menurut Institut Dezim terkait penelitian tentang integrasi dan migrasi, salah satunya seperti membersihkan rumah atau merawat orang tua.

Ketika upaya vaksinasi Covid-19 Jerman semakin cepat, pemerintah kota juga meningkatkan upaya mencoba mengatasi penolakan besar dari beberapa migran. Petugas Integrasi Berlin, Katarina Niewiedzial, menyebut banyak informasi palsu yang beredar seputar vaksin.

"Orang-orang dengan posisi tertentu di mata masyarakat, seperti imam, sangat baik posisinya dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat," kata dia.

Niewiedzial menyebut dampak yang dihasilkan dari khutbah yang disampaikan tokoh agama bisa sangat berbeda. Hal ini lah yang dilakukan dengan membuka tes swab di masjid dan mengajak imam masjid untuk bergabung. 

Sumber:

Baca Juga

https://www.dailymail.co.uk/wires/afp/article-9511795/In-Berlin-coronavirus-test-Ramadan-prayers.html

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X