Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Thursday, 19 Zulhijjah 1442 / 29 July 2021

Partisipasi Mahasiswa Penting Tangani Kekerasan Seksual

Rabu 28 Apr 2021 03:33 WIB

Rep: Inas Widyanuratikah/ Red: Friska Yolandha

Aktivis dari Kesetaraan Perjuangan Rakyat menggelar aksi Memperingati Hari Perempuan Internasional di Bundaran UGM, Yogyakarta, Senin (8/3). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan saat ini pihaknya masih dalam proses pembuatan permendikbud soal pencegahan kekerasan seksual di kampus.

Aktivis dari Kesetaraan Perjuangan Rakyat menggelar aksi Memperingati Hari Perempuan Internasional di Bundaran UGM, Yogyakarta, Senin (8/3). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan saat ini pihaknya masih dalam proses pembuatan permendikbud soal pencegahan kekerasan seksual di kampus.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Kemendikbud masih memproses permen soal pencegahan kekerasan seksual di kampus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan saat ini pihaknya masih dalam proses pembuatan permendikbud soal pencegahan kekerasan seksual di kampus. Meskipun demikian, di luar peraturan yang ada, hal penting lainnya yang perlu ditanamkan dalam menjaga lingkungan kampus yang aman adalah partisipasi mahasiswa.

"Jadi dalam kita merancang suatu strategi yang benar-benar mendarah dagingkan konsep moralitas di dalam perguruan tinggi, itu menurut kami dari yang kita lihat dari track record program yang sukses, yang terpenting itu partisipasi mahasiswanya sendiri," kata Nadiem, saat menjadi pembicara di kegiatan Ngobrol Intim Yang Muda, Selasa (27/4).

Baca Juga

Ia menjelaskan, penting bagi mahasiswa untu memahami posisinya di tengah kampus. Mahasiswa harus paham bahwa dirinya adalah corong dukungan, bantuan dan pelaporan jika terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan di kampusnya.

Di dalam menciptakan pemahaman tersebut, Nadiem berpendapat tidak bisa pelaporan dan bantuan terkait kekerasan di kampus, terbatas hanya di perguruan tinggi saja. Menurutnya, penting untuk menciptakan koneksi antara mahasiswa ke pihak di luar kampus, misalnya pemerintah. Hal ini dirasa perlu agar ketika muncul masalah di dalam kampus, penyelesaiannya betul-betul netral dari pihak yang tidak memiliki kepentingan apapun.

"Channel-nya nggak bisa mandek saja di perguruan tinggi, harus ada beberapa opsi. Bisa ada eskalasi kepada kementerian secara langsung, dan reporting system itu semuanya akan dilakukan secara online," kata dia lagi.

Ia juga menegaskan, di dalam sistem pelaporan itu penting untuk menjaga kerahasiaan pelapor. Nadiem ingin menciptakan satu sistem yang tidak membuat pelapor ragu melaporkan kejadian yang ia alami. Sebab, ia menyadari saat ini masih ada stigma jelek yang beredar di masyarakat terkait korban kekerasan seksual.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA