Senin 26 Apr 2021 19:08 WIB

Investasi Dinilai Belum Berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi

Realisasi investasi pada kuartal I 2021 tumbuh 4,3 persen dibandingkan kuartal I 2020

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi Pertumbuhan Investasi
Foto: Pixabay
Ilustrasi Pertumbuhan Investasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan, realisasi investasi pada kuartal I 2021 mencapai Rp 219,7 triliun. Angka itu tumbuh 4,3 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 210,7 triliun. 

Menanggapi pencapaian tersebut, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan, data yang disampaikan oleh BKPM tersebut memang menggembirakan. Sebab realisasi tumbuh positif dibandingkan tahun lalu. 

Baca Juga

Realisasi itu, lanjutnya, mencerminkan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional. Hanya saja, kata dia, pertumbuhan positif tersebut belum langsung berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. 

"Komponen investasi atau PMTB dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi yg Dilakukan BPS berbeda dengan realisasi investasi yang disebutkan oleh BKPM," ujar Piter kepada Republika.co.id, Senin (26/4).

Ia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2021 Masih terkontraksi walaupun arahnya membaik. "Jadi perekonomian kita memang menunjukkan perbaikan. Hanya saja masih belum bisa disebut sudah pulih," tutur dia. 

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menambahkan, terlalu dini mengukur kinerja realisasi investasi yang tumbuh terhadap proses pemulihan ekonomi. "Apalagi jika berkaca dari pemaparan BKPM yang menyebutkan, peningkatan realisasi investasi tidak terlepas dari jalannya beberapa investasi mangkrak pada tahun sebelumnya," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Senin (26/4).

Terkait meningkatnya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal I tahun ini, menurutnya itu biasa terjadi saat sebelum pandemi. "Ini disebabkan beberapa hal, pertama daya tarik investasi di Indonesia yang memang menarik dan juga masih relatif rendahnya pelaku usaha baru di dalam negeri," jelas dia.

Maka, lanjutnya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sering bertopang pada pelaku usaha eksisting. "Namun saya setuju dengan kembali membesarnya proporsi investasi PMA ada indikasi mulai masuknya investasi asing dari luar. Kalau berdasarkan paparan tadi, Hyundai juga sudah mulai membangun pabrik di dalam negeri. Saya kira itu salah satu contohnya," tutur Yusuf. 

Sebelumnya, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menuturkan, total realisasi investasi terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 108 triliun atau setara 49,2 persen. Lalu sebesar Rp 111,7 triliun atau 50,8 persen merupakan Penanaman Modal Asing (PMA).

Ia menyebutkan, realisasi PMDN kuartal pertama tahun ini turun 4,2 persen bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 112,7 triliun. Sedangkan realisasi PMA justru naik 14 persen, sebelumnya pada kuartal pertama tahun lalu hanya Rp 98 triliun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement