Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Monday, 13 Safar 1443 / 20 September 2021

Jepang Siapkan Latihan Militer dengan AS dan Prancis

Senin 26 Apr 2021 01:17 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Peta klaim Laut China Selatan

Peta klaim Laut China Selatan

Foto: wikipedia
Latihan bersama akan berlangsung dari 11 hingga 17 Mei.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Jepang akan mengadakan latihan militer bersama dengan pasukan Amerika Serikat (AS) dan Prancis di barat daya negara itu bulan depan. Acara ini dilakukan sebagai tindakan dari upaya China di perairan regional yang telah meningkatkan kekhawatiran.

Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF) mengatakan pada Jumat (23/4), latihan akan berlangsung dari 11 hingga 17 Mei. Acara ini akan menjadi latihan skala besar pertama di Jepang yang melibatkan pasukan darat dari ketiga negara.

Langkah ini terjadi ketika Tokyo berusaha untuk memperdalam kerja sama pertahanan di luar sekutu utamanya Washington untuk melawan ketegasan Beijing yang tumbuh di Laut China Timur dan Selatan. "Prancis berbagi visi tentang Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka," kata Menteri Pertahanan Jepang, Nobuo Kishi.

Latihan gabungan akan diadakan di tempat pelatihan Kirishima JGSDF dan Kamp Ainoura di wilayah Kyushu dan termasuk latihan operasi amfibi."Dengan memperkuat kerja sama antara Jepang, Amerika Serikat, dan Prancis, kami ingin lebih meningkatkan taktik dan keterampilan Pasukan Bela Diri dalam mempertahankan wilayah pulau terpencil," kata Kishi dikutip dari Aljazirah.

Paris memiliki kepentingan strategis di Indo-Pasifik yang memiliki kekuasan wilayah, termasuk Pulau Reunion Prancis di Samudra Hindia dan Polinesia Prancis di Pasifik Selatan. Jepang pun telah lama mengatakan merasa terancam oleh sumber daya militer China yang besar dan sengketa teritorial.

Pekan lalu, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga dan Presiden AS Joe Biden berjanji untuk berdiri teguh melawan China dan meningkatkan kerja sama termasuk di bidang teknologi. Kedua pemimpin juga sepakat untuk menentang setiap upaya untuk mengubah status quo dengan kekerasan atau paksaan di Laut China Timur dan Selatan.

Pertemuan tatap muka pertama Biden dengan seorang pemimpin asing juga dimaksudkan untuk memperkuat upaya bersama antara AS, Jepang, Australia, dan India, aliansi informal yang dikenal sebagai "Quad". Kekuatan ini dipandang oleh pemerintah AS yang baru sebagai benteng pertahanan melawan China di Indo-Pasifik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA