Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Kebanjiran Korban Meninggal Covid-19, India Kremasi Massal

Jumat 23 Apr 2021 12:04 WIB

Red: Friska Yolandha

Sebuah lahan kosong diubah menjadi lokasi krematorium jenazah yang meninggal karena Covid-19 di New Delhi, India, Rabu (21/4).

Sebuah lahan kosong diubah menjadi lokasi krematorium jenazah yang meninggal karena Covid-19 di New Delhi, India, Rabu (21/4).

Foto: AP Photo
India catat jumlah kasus harian Covid-19 tertinggi di dunia, 314.835 kasus pada Kamis

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Warga Delhi Nitish Kumar terpaksa menyimpan jasad ibunya di rumah selama hampir dua hari sambil mencari ruang di krematorium kota tersebut. Ini menandakan banjir kematian di ibu kota India tempat kasus Covid-19 yang semakin mengganas.

Pada Kamis (23/4) Kumar mengkremasi ibunya, yang meninggal karena Covid-19, di tempat kremasi massal darurat di sebuah tempat parkir sebelah krematorium di Seemapuri, timur laut Delhi. "Saya mencari ke sana-sini tetapi semua krematorium mempunyai berbagai alasan, salah satunya kehabisan kayu," kata Kumar.

India mencatat jumlah kasus harian Covid-19 tertinggi di dunia yakni 314.835 kasus pada Kamis (22/4), dengan gelombang kedua pandemi menghancurkan infrastruktur kesehatan yang lemah. Di Delhi saja, di mana rumah sakit mengalami krisis pasokan oksigen, lonjakan kasus harian Covid-19 mencapai 26.000.

Mereka yang kehilangan orang terkasih di ibu kota India, tempat 306 orang meninggal karena Covid-19 dalam sehari, beralih ke fasilitas darurat yang melakukan penguburan massal dan kremasi lantaran krematorium kewalahan.

Jitender Singh Shunty, penyedia layanan medis Shaheed Bhagat Singh Sewa Dal, mengatakan hingga Kamis malam 60 jasad telah dikremasi di fasilitas darurat di lapangan parkir dan 15 jasad lainnya masih menunggu.

"Tak seorang pun di Delhi pernah menyaksikan pemandangan demikian. Anak-anak yang berusia 5 tahun, 15 tahun, 25 tahun sedang dikremasi. Pengantin baru dikremasi. Berat untuk melihatnya," ungkap Shunty dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga : UEA Tangguhkan Semua Penerbangan dari India

Shunty, yang mengenakan alat pelindung dan sorban kuning cerah, mengatakan tahun lalu selama puncak gelombang pertama Covid-19 jumlah maksimal jasad yang ia bantu kremasinya adalah 18 jasad sehari, dengan rata-rata 8-10 per hari. Menurutnya, pada Selasa 78 jasad dikremasi di satu tempat saja.

Kumar bercerita ketika ibunya, yang seorang petugas kesehatan pemerintah, terbukti positif Covid-19 10 hari yang lalu, otoritas tidak mendapatkan tempat tidur rumah sakit untuknya. "Pemerintah tidak melakukan apa-apa. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluargamu. Kamu sendiri," katanya.

sumber : Antara/Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA