Jumat 23 Apr 2021 09:51 WIB

Para Pemimpin Asing Hadiri Pemakaman Presiden Chad

Presiden Chad dibunuh saat mengunjungi pasukan militer Chad di garis depan.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Presiden Chad, Idriss Déby (foto: dok).
Foto: AP
Presiden Chad, Idriss Déby (foto: dok).

REPUBLIKA.CO.ID, N'DJAMENA -- Para pemimpin asing tiba di Chad pada Kamis (23/4) untuk menghadiri pemakaman Presiden Idriss Deby, yang dibunuh ketika berhadapan dengan pemberontak. Deby meninggal dunia saat mengunjungi pasukan militer Chad di garis depan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Guinea Alpha Conde dan beberapa kepala negara Afrika lainnya tiba di N'Djamena. Pemberontak telah memperingatkan bahwa para pemimpin asing tidak boleh menghadiri pemakaman yang berlangsung pada Jumat (23/4), karena alasan keamanan. 

Baca Juga

Prancis yang merupakan mantan penguasa kolonial Chad mendukung para pemimpin militer baru dalam menghadapi ancaman pemberontak. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian mengatakan, tindakan militer dibenarkan karena ketua parlemen menolak untuk mengambil alih.

Sekitar 5.100 tentara Prancis ditempatkan di seluruh wilayah sebagai bagian dari operasi internasional untuk memerangi kelompok pemberontak. Prancis juga memiliki pangkalan militer utama di N'Djamena.

Anggota Front for Change and Concord in Chad (FACT), sebuah kelompok pemberontak yang berbasis di Libya yang sebagian besar terdiri dari para pembangkang militer, melintasi perbatasan utara dari Libya dan ke Chad pekan lalu. Pemberontakan terbaru itu dimulai pada hari pemilihan pada 11 April. Deby mencari masa jabatan keenam yang kontroversial dalam pemungutan suara yang diboikot oleh partai-partai oposisi utama.

Putranya yang berusia 37 tahun, Jenderal bintang empat Mahamat Idriss Deby, kini akan memimpin dewan militer transisi selama 18 bulan sebelum pemilihan baru diadakan. Deby meninggalkan istrinya Hinda Deby Itno, yang dinikahinya pada 2005, beserta anak-anak mereka, dan anak-anak dari perkawinan sebelumnya.

Idriss Deby dikenal karena kerap mengunjungi medan perang. Setelah pejuang Boko Haram melancarkan serangan mematikan di pangkalan militer Chad di desa Bohoma pada Maret tahun lalu, presiden terlihat berjalan di tepi Danau Chad, di samping pasukannya. Di medan perang itu, bekas prajurit itu menemui ajalnya.

Perbedaan pendapat dalam militer telah menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas di Chad. Seorang analis Chad, Jerome Tubiana mengatakan, Mahamat Deby hanya mendapatkan sebagian dukungan dari militer. 

"Kaka (Mahamat Deby) hanya mendapat dukungan sebagian dari tentara. Dia masih muda dan, tidak seperti ayahnya, tidak pernah menjadi pemberontak. Di dalam ketentaraan, memang ada (setidaknya) dua kelompok," ujar Tubiana.

Nigeria memperkuat keamanan di sepanjang perbatasannya untuk menghindari kemungkinan masuknya pengungsi Chad. Tentara Republik Afrika Tengah mengatakan pihaknya dalam keadaan siaga maksimum untuk mencegah kelompok bersenjata melintasi perbatasan. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement