Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Malaysia akan Beli Vaksin Covid-19 dengan Dana dari Migas

Jumat 23 Apr 2021 09:22 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Seorang wanita yang memakai masker wajah berjalan di Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, ilustrasi. Malaysia memberlakukan UU darurat baru untuk membeli vaksin Covid-19

Seorang wanita yang memakai masker wajah berjalan di Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, ilustrasi. Malaysia memberlakukan UU darurat baru untuk membeli vaksin Covid-19

Foto: EPA-EFE/FAZRY ISMAIL
Malaysia memberlakukan UU darurat baru untuk membeli vaksin Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, KUALA LUMPUR -- Pemerintah Malaysia memberlakukan undang-undang darurat baru untuk membeli vaksin Covid-19. Undang-undang darurat memungkinkan penggunaan dana yang berasal dari kontribusi minyak dan gas untuk membayar pengadaan vaksin.

Peraturan tersebut akan memungkinkan akses pemerintah untuk menggunakan 17,4 miliar ringgit atau 4,23 miliar dolar AS yang diparkir di bawah dana perwalian nasional untuk mengamankan vaksin. Dana perwalian mengambil kontribusi dari perusahaan energi negara Petronas, dan perusahaan lainnya yang terlibat dalam eksploitasi minyak bumi. Dana perwalian didirikan untuk mendukung infrastruktur dan pembangunan lainnya, serta memberikan pinjaman federal kepada negara bagian Malaysia.

Petronas sudah memberikan dividen tahunan kepada pemerintah, setelah mengumumkan pembayaran 18 miliar ringgit untuk tahun ini. Pada bulan Januari, Raja Al-Sultan Abdullah mengumumkan keadaan darurat nasional untuk mengekang penyebaran Covid-19, dan memberi pemerintah kekuasaan yang luas untuk memberlakukan undang-undang sementara tanpa memerlukan persetujuan parlemen. 

Baca Juga

Perdana Menteri Muhyiddin Yassin pada Maret hampir menggandakan anggaran imunisasi Covid-19 menjadi 5 miliar ringgit. Melalui peningkatan anggaran diharapkan dapat membantu mencapai target pemerintah untuk menginokulasi 80 persen dari 32 juta penduduk Malaysia pada Desember.

Tetapi oposisi dan publik Malaysia telah mengkritik pemerintah, karena peluncuran vaksinasi yang lambat. Hampir 750 ribu orang telah divaksinasi penuh pada Selasa (20/4). Sementara sekitar 462.000 lainnya sedang menunggu suntikan kedua.

Baca juga : Pelindo 1 Dumai Ekspor Isotank ke Port Klang Malaysia

Malaysia mengalami lonjakan tajam dalam tingkat infeksi Covid-19 menjelang akhir tahun 2020. Malaysia saat ini memiliki jumlah infeksi tertinggi ketiga di ASEAN setelah Indonesia dan Filipina. Hingga Rabu (21/4) Malaysia mencatat hampir 382.000 kasus positif virus korona, dan 1.400 kematian. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA