Rabu 21 Apr 2021 21:31 WIB

Santri Pesantren Al-Hamadiyah akan Dibekali Turats Nusantara

Pesantren Al-Hamidiyah Depok padukan sistem salaf dan modern

Rep: Rusydi Nurdiansyh / Red: Nashih Nashrullah
Pesantren Al-Hamidiyah Depok padukan sistem salaf dan modern. Ilustrasi kitab kuning
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Pesantren Al-Hamidiyah Depok padukan sistem salaf dan modern. Ilustrasi kitab kuning

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK— Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hamidiyah yang didirikan KH A  Sjaichu memadukan metode pesantren salaf dan modern. Dimana kajian kitab kuning dan Alquran menjadi materi wajib bagi santri setiap hari sesuai jenjang pendidikannya. 

Tidak hanya kitab kuning saja, melainkan juga akan fokus dalami kajian Kitab kuning atau klasik karya ulama dari Nusantara. Seperti yang dijelaskan Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Prof Oman Faturrahman. Menurutnya, turats (peninggalan ulama dan cendekia terdahulu-red) dari karya ulama Nusantara sangat banyak. Baik dalam ilmu fiqih, tafsir seperti Tafsir Ibriz, Tarjuman Mustafid, abad ke-17 ada Abdurrahman Sinkel dari Aceh dan lainnya.  

Baca Juga

"Selama ini pesantren mengajarkan kitab kuning, tapi kita ingin menambahkan kitab kuning karya ulama dari Nusantara. Pengetahuan tentang Ulama dari Nusantara itu yang ingin kita kenalkan kepada para santri," ujar dia seusai acara Pelantikan Kepala Pengasuh dan Wakil Kepala Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah Depok Prof  Oman Faturrahman, (Kepala Pengasuh), KH Jauhari, LC (Wakil Kepala Pengasuh Bidang Madrasah), KH  Abdul Rasyid, LC (Wakil Kepala Pengasuh Bidang Pesantren dan Asrama).  

Menurut Oman, ajaran Islam datang ke Indonesia seringkali diterjemahkan ke dalam konteks  tafsir Indonesia. Khazanah pemikiran ulama dari Indonesia sangat luas dan tidak hanya berbahasa Indonesia. Namun, lanjutnya, dalam penulisannya juga menggunakan bahasa Jawa,  Sunda Arab Pegon, Sumatra, dan lainnya. 

"Itu semua adalah karya-karya para ulama kita. Yang terpenting adalah supaya santri-santri kita, khususnya Pesantren Al-Hamidiyah memahami bagaimana pemikiran keislaman para Ulama Indonesia," jelas pakar filologi ini. 

Dia menambahkan, dalam konteks tafsir, selama ini mengenal tafsir jalalain tafsir al-maraghi tafsir Ibnu Katsir dan lainnya. Padahal, ulama dari  Nusantara sendiri mempunyai Tafsir Al Ibriz  Mbah Bisri Musthofa, dan Tafsir Sunda dari Kyai Ahmad Sanusi. "Belum lagi tafsir-tafsir dari Sumatra itu banyak sekali, sama halnya tafsir-tafsir lokal.  Nah, itu kan kekayaan kita, bahasa-bahasa kita, dan  saya kira itu perlu diketahui," papar Oman. 

Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat Dr Adib, mengapresiasi keberadaan Pesantren Al-Hamidiyah. Pasalnya, dari sisi prestasi di tingkat lokal maupun Nasional sudah cukup diakui. 

"Pesantren Al-Hamidiyah merupakan Pesantren unggulan di Jawa Barat. Keberadaannya dalam melahirkan lulusan yang berkualitas. Semoga semakin berkah ke depannya mengabdi kepada masyarakat. Harapannya kepala pengasuh dan wakil kepala pengasuh dapat terus melakukan inovasi berkelanjutan dengan cara menunjukkan bagaimana Al-Hamidiyah dapat berkontribusi khususnya di bidang pendidikan," ujar dia.  

Acara pelantikan, Selasa (20/4) tersebut, dihadiri Dr Imam Susanto, selaku Direktur Utama Yayasan Islam Al-Hamidiyah, juga dihadiri Dr Adib, M Ag selaku Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat, H Asnawi, S Ag selaku Kepala Kemenag Kota Depok, Drs  H Lukman Hakim Saifuddin mantan Menteri Agama dan beberapa pejabat kota Depok lainnya.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement