Refleksi Ramadhan: 3 Tingkatan Syukur yang Disalahpahami 

Red: Nashih Nashrullah

 Rabu 21 Apr 2021 21:26 WIB

Terdapat 3 tingkatan syukur yang semestinya bagi hamba. Ilustrasi bersyukur Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Terdapat 3 tingkatan syukur yang semestinya bagi hamba. Ilustrasi bersyukur

Terdapat 3 tingkatan syukur yang semestinya bagi hamba

Oleh : Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar

REPUBLIKA.CO.ID, Ada tiga tingkatan syukur yang sering dipahami secara rancu. Pertama, tahmid, yaitu mengucapkan lafaz alhamdulillah saat kita memperoleh keberuntungan. Kedua, syukur, yaitu menyandarkan segala nikmat itu kepada Sang Pemberi Nikmat, yaitu Allah SWT dengan sikap rendah diri.

Seseorang baru disebut bersyukur ketika memberikan hak-hak orang lain dari harta yang Allah berikan kepada kita. Misalnya, gaji dan pendapatan lain yang kita peroleh sebulan dikeluarkan minimum 2,5 persen kepada para mustahik sebagai bagian dari zakat dan sedekah kita. Inilah yang disebutkan di dalam Alquran: 

Baca Juga

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim [14]: 7).

Ketiga, syakur, yaitu orang-orang yang tidak hanya mensyukuri kenikmatan, kebahagiaan, dan keberuntungan, tetapi juga mensyukuri segala bentuk musibah, penderitaan, malapetaka, dan kekecewaan yang melanda dirinya. Segala bentuk penderitaan dan kemalangan dianggapnya sebagai "surat cinta" Tuhan.

Sekian lama ia dipanggil Tuhan dengan kenikmatan dan kebahagiaan, tetapi tidak menyadarinya, bahkan terkadang mabuk dengan kemewahan dan kenikmatan hidup. Nama Tuhan yang disebut ketika dalam keadaan bahagia dan senang tidak seakrab dan sedalam ketika di dalam suasana kepedihan dan penderitaan.

Tahmid dan syukur banyak dilakukan orang, lebih banyak lagi yang tidak bertahmid dan tidak bersyukur. Amat terbatas orang yang bisa sampai kepada syakur. Allah SWT juga menyatakan:  

 وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ "Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih." (QS Saba [34]: 13).

Syakur sebagai tingkat kesyukuran paling tinggi sudah tentu menjadi dambaan semua orang. Betapa tidak, orang yang sudah sampai di tingkatan ini dadanya akan lapang, selapang samudra, sehingga betapapun banyak kotoran mengalir dari sungai, tidak akan pernah bisa mengubah warna air samudra.

Sebaliknya, jika dada orang sempit maka ia akan merasa sumpek sehingga sekecil apa pun kritikan dialamatkan pada dirinya langsung terasa sesak dan stres. Seperti dijelaskan dalam Alquran: 

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

"Barang siapa yang Allah meng hendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dada nya untuk Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman." (QS Al Anam [6]: 125).

Al Junaid mengatakan, syukur ialah engkau tidak memandang dirimu sebagai pemilik nikmat. Sedangkan Asy Syiblî mengatakan, syukur ialah melihat kepada pemberi nikmat dan bukan kepada nikmatnya. 

Pernyataan ini diperkuat dengan ucapan Nabi Ayyub AS yang bersikap sabar terhadap musibah yang menimpanya sehingga ia disebut sebagai hamba yang sebaik-baiknya.

Demikian juga Nabi Sulaiman AS yang bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya sehingga ia disebut juga sebagai hamba yang sebaik-baiknya. Hal ini disebabkan karena keduanya konsentrasi pada pemberi nikmat dan bukan pada musibah dan nikmat itu sehingga keduanya tidak merasakan sama sekali rasa sakit dan nyaman.

Atas dasar pengertian inilah, Allah mempunyai sifat asy-syakûr, syukur yang sangat luas. Allah memberikan balasan kepada para hamba-Nya atas kesyukurannya. Ada yang mengatakan bahwa kesyukuran Allah ialah memberikan pahala yang banyak atas amal yang sedikit. Kata mereka, hewan bersyukur, artinya hewan itu tampak badannya gemuk. Ada juga yang mengatakan, hakikat syukur ialah memuji kepada yang berbuat baik dengan menyebut kebaikannya.   

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X