Wednesday, 30 Zulqaidah 1443 / 29 June 2022

...

Penjelasan Agnelli Tentang Keteguhan Menyelenggarakan ESL

Rabu 21 Apr 2021 20:48 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto

Presiden Juventus Andrea Agnelli.

Presiden Juventus Andrea Agnelli.

Foto: EPA-EFE/ SALVATORE DI NOLFI
Agnelli menegaskan Liga Super Eropa tidak menghadirkan ancaman pada siapa pun.

REPUBLIKA.CO.ID, TURIN -- Sejumlah member Liga Super Eropa (ESL) menyatakan pengundurkan diri. Enam tim Inggris sudah resmi keluar dari perencanaan menuju ajang tersebut.

Teranyar, duo Milan disebut bakal mengambil sikap serupa. Begitu pun dengan Atletico Madrid dan Barcelona.

Itu berarti hanya tersisa Real Madrid serta Juventus. Presiden Juve, Andrea Agnelli, memberikan penjelasan menyeluruh, berisi alasan pemikiran mereka.

Agnelli diwawancarai Il Corriere dello Sport, dan Repubblica. Proses tanya jawab tersebut, berlangsung sebelum tim-tim Negeri Ratu Elizabeth mundur dari ESL.

Agnelli menegaskan penyelenggaraan Liga Super Eropa tidak menghadirkan ancaman pada siapa pun. Para peserta, menurut dia, tetap mengikuti kejuaraan domestik masing-masing.

Karena itu adalah akar dari tradisi sepak bola. Ia juga sangat memahami pentingnya kehadiran penggemar.

"Tidak benar tentang adanya bonus 350 juta euro per tahun. Kami masih terlibat di kompetisi domestik, kami bermain di setiap stadion di Italia, Spanyol, dan Inggris. Setiap pekan kami akan memberi penggemar suguhan pertandingan liga. Sementara kompetisi baru ini, akan mendekatkan generasi muda yang menjauh dari sepak bola," kata Agnelli, dikutip dari Football Italia, Rabu (21/4).

Agnelli menjelaskan dinamika dunia lapangan hijau. Menurutnya, saat ini generasi muda hanya ingin menyaksikan duel bigmatch.

Tak ada keterikatan emosi antara mereka dengan kompetisi domestik, seperti yang terjadi di era generasi sebelumnya. Agnelli menerangkan, sepertiga dari penggemar sepak bola di dunia mengikuti klub-klub peserta Liga Super Eropa tersebut.

Sebanyak 10 persen, lebih tertarik pada sosok pemain, bukan klub. "Statistik yang paling mengkhawatirkan adalah mereka yang berusia antara 16 hingga 24 tahun, sama sekali tidak tertarik pada sepak bola," ujar Agnelli.

Oleh karenanya, ESL bisa kembali menarik minat kelompok tersebut, pada geliat lapangan hijau. Tujuan lainnya, adalah penguatan ekonomi.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA