Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Tempat Wisata Buka Selama Idul Fitri, Ini Saran Eijkman

Rabu 21 Apr 2021 17:41 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ratna Puspita

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio

Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio

Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA
Protokol kesehatan tidak boleh hanya mengandalkan pengelola tempat wisata.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman menilai tempat wisata atau tempat hiburan  bisa beroperasi selama libur lebaran 2021 besok. Kendati demikian, penerapan protokol kesehatan (prokes) selama tempat wisata dibuka yang dipertanyakan.

"Tempat hiburan dan wisata bisa saja dibuka, hanya saja penerapan protokol kesehatan ini dipertanyakan. Kalau pengelolanya bisa menjamin maka mungkin bisa lebih aman," kata Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebandrio saat dihubungi Republika, Rabu (21/4).

Baca Juga

Kendati demikian, dia mengatakan, penerapan protokol kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan pengelola tempat wisata, melainkan juga pengunjung. Sebab pada praktiknya, ia mengatakan, pengelola tidak mampu untuk membatasi jumlah orang/pengunjung yang masuk. 

Karena itu, ia mengingatkan masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan. "Penularan virus bisa terjadi di tempat wisata maupun di tempat yang lain seperti kendaraan umum jika tidak menerapkan protokol kesehatan. Itu faktor yang lebih penting," ujarnya.

Ia mengatakan, protokol kesehatan tetap menjadi cara mencegah penyebaran virus. Karena itu, protokol kesehatan tetap harus menjadi pegangan masyarakat baik yang mudik atau tidak mudik dan baik yang ke tempat wisata maupun tidak. Tanpa protokol kesehatan maka justru bisa membuat penyebaran virus. 

Saran serupa juga dialamatkan kepada orang yang sudah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19. Dia melanjutkan, protokol kesehatan harus dilakukan baik yang sudah divaksinasi Covid-19 atau belum divaksinasi. 

Sebab, dia melanjutkan, seringkali masyarakat setelah mendapatkan vaksinasi merasa bebal dan penerapan protokol kesehatan jadi kendor. Padahal, penularan masih memungkinkan terjadi. "Kalau protokol kesehatan tidak dipatuhi maka penularan virus akan terjadi," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA