Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Rouhani Puji Kemajuan Diskusi Nuklir

Rabu 21 Apr 2021 15:21 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Teguh Firmansyah

Gambar selebaran yang disediakan oleh kantor kepresidenan Iran menunjukkan presiden Iran Hassan Rouhani berbicara selama pertemuan kabinet di Teheran, Iran, 17 Februari 2021. Menurut situs resmi kepresidenan Iran, menyusul ketegangan Iran dan AS atas kesepakatan nuklir (JCPOA) Rouhani mengatakan bahwa kami adalah tidak mencari bom nuklir karena mengatakan kami tidak memiliki aktivitas nuklir rahasia tidak hari ini, tidak kemarin dan tidak di masa depan dan ini adalah seluruh diplomasi rezim.

Gambar selebaran yang disediakan oleh kantor kepresidenan Iran menunjukkan presiden Iran Hassan Rouhani berbicara selama pertemuan kabinet di Teheran, Iran, 17 Februari 2021. Menurut situs resmi kepresidenan Iran, menyusul ketegangan Iran dan AS atas kesepakatan nuklir (JCPOA) Rouhani mengatakan bahwa kami adalah tidak mencari bom nuklir karena mengatakan kami tidak memiliki aktivitas nuklir rahasia tidak hari ini, tidak kemarin dan tidak di masa depan dan ini adalah seluruh diplomasi rezim.

Foto: IRAN PRESIDENTIAL OFFICE / HANDO/IRAN PRESIDE
Rouhani sebut pembicaraan telah berkembang sekitar 60 sampai 70 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN --  Presiden Iran Hassan Rouhani memuji kemajuan dalam pembicaraan mengenai negosiasi yang dilakukan bersama dengan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara kekuatan Dunia di Ibu Kota Wina, Austria.  Kesepakatan nuklir dilaporkan telah berkembang menjadi sekitar 60 hingga 70 persen setelah putaran kedua negosiasi.

“Pembicaraan telah berkembang sekitar 60 hingga 70 persen dan jika Amerika bertindak dalam kerangka kejujuran, kami akan mencapai hasil dalam waktu singkat," ujar Rouhani dalam sebuah pernyataan, dilansir Middle East Eye, Rabu (21/4).

Sementara itu, Departemen Luar Negeri AS juga mengatakan pembicaraan tentang negosiasi nuklir Iran berjalan dengan baik. Meski demikian, negara itu menekankan bahwa menghidupkan kembali perjanjian nuklir belum akan terjadi dalam waktu dekat. “Pembicaraan itu seperti bisnis, positif dengan beberapa kemajuan, tetapi masih ada jalan panjang di depan," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price.

Price mengonfirmasi bahwa delegasi Amerika, yang dipimpin oleh utusan Iran Rob Malley, akan kembali ke Ibu Kota Austria untuk melanjutkan negosiasi tidak langsung pada pekan depan. Sementara, Komisi Bersama, yang mengawasi kesepakatan yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para pihak setuju untuk membentuk kelompok ahli untuk membahas urutan langkah-langkah untuk menghidupkan kembali perjanjian nuklir Iran.

Dua kelompok ahli dibentuk pada bulan lalu untuk menguraikan langkah-langkah yang harus diambil Teheran dan Washington untuk memulihkan kesepakatan. Para peserta mencatat kemajuan yang dibuat dalam diskusi yang sedang berlangsung di Wina mengenai langkah-langkah spesifik dalam hal pencabutan sanksi dan implementasi nuklir untuk kemungkinan kembalinya AS ke JCPOA.

AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 dan kini tidak terlibat langsung dalam pembicaraan yang mencakup pihak-pihak seperti Cina, Prancis, Jerman, Rusia, Inggris, dan Iran. JCPOA mencabut sanksi terhadap Teheran setelah mengurangi program nuklirnya. Namun Trump membatalkan perjanjian dan mulai memberikan sanksi ekonomi terhadap Iran.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA