Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Jokowi: Insya Allah Sampai Akhir Tahun tidak Impor Beras

Rabu 21 Apr 2021 14:43 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Erik Purnama Putra

Presiden Joko Widodo (tengah) menghadiri panen raya padi di Desa Wanasari, Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (21/4/2021).

Presiden Joko Widodo (tengah) menghadiri panen raya padi di Desa Wanasari, Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (21/4/2021).

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Presiden Jokowi menyatakan, pemerintah sebetulnya tidak suka impor beras.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, pemerintah terus berkomitmen untuk meningkatkan produksi padi hingga tercapai swasembada. Impor beras pun tidak akan dilakukan jika produksi padi petani bagus dan bisa memenuhi kebutuhan.

Jokowi menyatakan, pemerintah sebetulnya tidak suka impor beras. Menurut dia, rencana impor beras beberapa waktu yang lalu itu didasarkan pada itung-itungan kalkulasi karena banyak yang kena banjir dan terjadinya pandemi sehingga dinilai perlu tambahan untuk cadangan.

"Tapi, kemarin sudah kita putuskan sampai Juni tidak ada impor. Insya Allah, nanti juga sampai akhir tahun, kalau produksinya bagus, berarti juga tidak akan impor," ujar Jokowi saat menyaksikan panen di Desa Wanasari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (21/4).

Dalam kesempatan itu, Jokowi mellihat hasil panen bagus, yang mencapai tujuh sampai delapan ton per hektare. Harga gabah di tingkat petani, yang sebelumnya Rp 3.400-Rp 3.500 per kilogram (kg), kini sudah naik menjadi Rp 4.200 per kg.

Tak hanya itu, Jokowi juga menerima keluhan dari petani mengenai pupuk subsidi yang masih sulit dicari. Sedangkan pupuk nonsubsidi, meski banyak tersedia, tetapi harganya mahal hingga Rp 600 ribu per kuintal.

Di hadapan Jokowi, petani menyatakan siap membeli pupuk nonsubsidi meski harganya mahal asalkan harga padinya naik. Untuk saat ini, harga padi yang hanya Rp 420 ribu per kuintal dinilai tidak bisa mengimbangi harga pupuk yang sampai Rp 600 ribu per kuintal.

Baca juga: Bulog, Nasib Petani, dan Ketahanan Pangan

"Ini urusan pupuk nanti saya bicarakan dengan Pak Mentan di dalam rapat di Istana, solusinya seperti apa," kata Jokowi.

Selain itu, sejumlah petani lainnya juga mengeluhkan sulitnya mencari tenaga kerja saat panen sehingga mereka meminta untuk diberikan mesin combine. Ada pula petani yang meminta bantuan traktor dan mesin pompa.

"Tadi sudah saya iya-kan," cetus mantan gubernur DKI Jakarta itu.

Jokowi menambahkan, pemerintah ingin terus membangun pertanian yang semakin baik produksinya sehingga menjadi ketahanan pangan bagi Indonesia. Dia juga menyatakan ingin mencapai swasembada pangan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA