Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Jenderal AS Ragu Taliban Dapat Diandalkan Sebagai Mitra

Rabu 21 Apr 2021 14:41 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Ilustrasi: Tentara Afghanistan dalam operasi mengambil alih distrik Ghormach Provinsi Faryab dari kekuasaan Taliban.

Ilustrasi: Tentara Afghanistan dalam operasi mengambil alih distrik Ghormach Provinsi Faryab dari kekuasaan Taliban.

Foto: Anadolu Agency
AS telah memutuskan untuk menarik pasukannya dari Afghanistan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Salah satu jenderal Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (AS) ragu dengan kemampuan Taliban untuk dapat diandalkan sebagai mitra negosiasi bagi diplomat AS dan Afghanistan. Hal ini disampaikan setelah Washington berencana mengakhiri perang terlama AS.

Kepala Pusat Komando Jenderal Marinir Kenneth McKenzie mengatakan AS juga belum mengetahui bagaimana caranya mendeteksi dan bereaksi pada ancaman dari Alqaidah atau ISIS setelah pasukan AS ditarik dari Afghanistan. Ia menambahkan militer sedang menyusun opsi untuk menghadapi ancaman tersebut.

McKenzie mengatakan, AS belum mencapai kesepakatan dengan negara-negara tetangga Afghanistan mengenai pangkalan militer di negara itu. Hingga kini Washington juga masih mengatur kesepakatan diplomatik mengenai pasukan keamanan yang bertahan di Kedutaan Besar AS di Kabul.

Dalam kesaksiannya di hadapan Komite Layanan Angkatan Bersenjata House of Representative, McKenzie menekankan ketidakpastian yang dihadapi Pentagon setelah Presiden Joe Biden memerintahkan semua pasukan AS meninggalkan Afghanistan pada 11 September mendatang.

"Saya memiliki keraguan yang sangat besar mengenai kemampuan Taliban untuk diandalkan tapi kami harus melihat apa yang akan mereka lakukan di sini, bila mereka ingin semacam pengakuan internasional di masa depan mereka harus memenuhi kesepakatan yang mereka buat," kata McKenzie, Selasa (20/4) kemarin.

Pernyataan ini disampaikan satu hari setelah tiga sumber mengatakan perundingan damai antara Taliban dan pemerintah Afghanistan yang didukung Washington ditunda. Pertemuan itu sejatinya akan digelar di Turki.

Sebelum digulingkan AS pada 2001 Taliban menguasai Afghanistan dari 1996. Sejak itu kelompok tersebut menggelar pemberontakan dan menguasai wilayah yang cukup luas di Afghanistan.

Belum diketahui apakah Taliban akan membiarkan pasukan AS yang mereka sebut penjajah meninggalkan Afghanistan dengan damai. McKenzie mengatakan AS belum membuat kesepakatan dengan Taliban yang akan menjamin kelompok tersebut tidak akan menyerang pasukan AS setelah 1 Mei. Tapi militer bersiap menghadapi skenario serangan.

Keputusan Biden untuk menarik pasukan dari Afghanistan memicu kekhawatiran akan mendorong negara itu ke perang sipil skala besar. Taliban dinilai dapat menjaga hubungan dengan kelompok-kelompok ekstremis. Taliban membantah keberadaan Alqaidah di Afghanistan.

McKenzie mengatakan AS belum membuat kesepakatan dengan negara-negara tetangga Afghanistan mengenai pangkalan militer untuk melakukan serangan atau pengamatan. Ia mengatakan pada akhir bulan ini akan menyerahkan rencana kontra-terorisme di luar Afghanistan ke Menteri Pertahanan.

Ia memperingatkan AS dapat kehilangan jaringan militer yang saat ini mereka miliki di Afghanistan. Menurutnya ketiadaan intelijen akan berdampak besar.  

McKenzie mengatakan sebagian besar kontraktor AS akan meninggalkan Afghanistan bersama pasukan AS. Sehingga membuka kemungkinan kontraktor yang didanai internasional untuk membantu pasukan Afghanistan dapat tetap tinggal.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA