Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Memilih Reksa Dana yang Tepat di Tengah Volatilitas Pasar

Rabu 21 Apr 2021 14:13 WIB

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha

Ilustrasi investasi. Investor diimbau melakukan diversifikasi aset di tengah gejolak pasar keuangan.

Ilustrasi investasi. Investor diimbau melakukan diversifikasi aset di tengah gejolak pasar keuangan.

Foto: Pixabay
Di reksa dana campuran, investor dapat menyebar dana mereka ke 3 instrumen berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saham merupakan portofolio investasi dengan volatilitas amat tinggi. Beberapa hari ini volatilitas amat terasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi, mendekati level 5,800 di April 2021. Salah satu penyebabnya, sentimen negatif investor global terkait ekspektasi inflasi Amerika Serikat (AS) yang melebihi perkiraan. 

Namun pada Kamis (15/4) kemarin, IHSG terus menguat. Kamis kemarin IHSG menguat 0,48 persen atau 29,22 poin ke level 6.079,5. Di tengah fluktuasi pasar, perlu fleksibilitas dalam melakukan diversifikasi. Di sinilah keunggulan reksa dana campuran alias balance fund

Dalam investasi reksa dana biasanya investor menyebar dana mereka ke beberapa jenis reksa dana yang berbeda. Tujuannya agar imbal hasil investasi stabil. Namun di reksa dana campuran, investor sudah mendapatkan diversifikasi ke dalam tiga jenis instrumen di dalam satu produk. Semuanya sudah diatur oleh manajer investasi. Jadi, reksa dana campuran merupakan opsi diversifikasi yang lebih praktis buat investor.

Fleksibilitas ini berbeda dengan jenis reksa dana lain. Yang memiliki ketentuan minimum untuk berinvestasi pada instrumen sesuai dengan jenis reksa dananya. Akibatnya fleksibilitas manajer investasi menjadi berkurang dan jadi salah satu penyebab mengapa banyak reksa dana sulit mengalahkan index.

 

Dalam menyikapi volatilitas pasar manajer investasi melihat adanya kebutuhan diversifikasi aset, sehingga investor dapat terlindungi ketika terjadi volatilitas yang tinggi pada pasar saham. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh perusahaan manajer investasi Syailendra Capital.

 

“Kami melakukan simulasi portfolio yang terdiversifikasi selama sepuluh tahun terakhir. Diversifikasi kelas aset terbukti memberikan kinerja yang lebih baik dibanding investasi pada saham (LQ45). Terlepas dari besar porsi yang dialokasikan pada ekuitas, obligasi, dan pasar uang, ketiga skenario memberikan kinerja di atas indeks saham maupun deposito,” terang  Presiden Direktur Syailendra Capital Fajar R Hidayat dalam keterangannya, Rabu (21/4).

Dengan kejelian tersebut, reksadana campuran Syailendra mencetak hasil berkilau. Sebagai contoh Syailendra Balance Opportunity Fund. Per 16 April 2021 kemarin, yield 3 bulan reksadana ini mencapai 17,7 persen dan enam bulan mencapai 17,58 persen. Yield setahun terakhir memang agak menurun sekitar 6,92 persen. Tapi masih lebih bagus dibandingkan reksadana lain yang minus. Jika sejak diterbitkan, reksadana ini mencetak yield 166,2 persen.

Syailendra Balance Opportunity Fund menempatkan portofolio di saham sebanyak 71,7 persen. Sisanya di korporate bond 13,3 persen dan pasar uang sebanyak 15 persen.  

Reksa dana campuran memiliki alokasi seimbang pada setiap instrumen baik itu saham, obligasi, maupun pasar uang. Sehingga, manajer investasi bisa leluasa  mengatur alokasi instrumen dengan lebih fleksibel. Misalnya ketika pasar saham sedang bullish, maka sebagian besar dana akan ditempatkan ke saham atau obligasi.  

Sebaliknya, dengan fleksibilitas yang bisa dilakukan oleh manajer investasi pada reksa dana campuran, maka MI bisa mengatur strategi yang lebih fleksibel agar performa reksa dana bisa mengalahkan index acuan. Artinya, MI bisa mengubah strategi alokasi instrumen dengan aktif sesuai perkembangan pasar.

Ya, reksa dana campuran bisa menjadi salah satu pilihan bagi investor. Manajer investasi leluasa memindahkan alokasi ke kelas aset berbeda sesuai dengan situasi pasar. Reksa dana campuran dapat berinvestasi pada efek ekuitas dan/atau efek Utang dengan proporsi di saham 10 - 75 persen, obligasi 10 persen-75 persen dan pasar uang 2 persen-75 persen.

Keleluasaan reksa dana campuran tidak dimiliki reksadana jenis lain yang memiliki ketentuan minimum untuk berinvestasi pada instrumen sesuai dengan jenis reksa dananya. Akibatnya fleksibilitas manajer investasi menjadi berkurang dan salah satu penyebab mengapa banyak reksadana sulit mengalahkan indeks.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA