Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Dua Jurus Sukses Usaha Rintisan, Apa Sajakah?

Rabu 21 Apr 2021 08:27 WIB

Red: Natalia Endah Hapsari

Perusahaan rintisan (ilustrasi)

Perusahaan rintisan (ilustrasi)

Foto: Piqsels
Kiatnya adalah terus berpikir menciptakan jalur pendapatan baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --- Untuk membuat perusahaan rintisan, ada dua syarat yang harus dipenuhi.  ''Pertama, barang atau jasa yang dihasilkannya harus repeatable, dapat digunakan  berulang oleh para pengguna dan yang kedua adalah produk atau jasa tersebut expandable, artinya bisa diekspansi ke mana pun,'' ujar  Antovany Reza Pahlevi, seorang technopreneur bisnis, yang saat ini tengah membidani lahirnya sejumlah projek rintisan dan transformasi digital dalam siaran pers, Rabu (21/4).

Pemilik perusahaan rintisan, lanjut pria yang akrab disapa Reza itu, harus selalu berpikir menciptakan jalur pendapatan baru. Mereka akan terus mencari dan menguji coba ide bisnisnya, sampai kemudian menjadi produk yang mapan. Itu sebabnya kebanyakan pengusaha rintisan tidak takut gagal, namun akan terus berupaya supaya bisnisnya bisa bertahan.

Sebaliknya, di sejumlah perusahaan, apabila produk yang dihasilkan pada akhirnya gagal atau tidak laku lagi sesuai perkembangan zaman dan selera pasar, maka produk tersebut harus dihentikan produksinya.         

Harus diakui, tambah Reza, bahwa bisnis yang “agile” adalah usaha bisnis yang tangkas. Agile merupakan satu jenis kerangka kerja yang juga digunakan di dalam manajemen proyek rintisan. “Dengan agile framework, maka pelaku bisnis rintisan akan terus mencari, karena mereka merasa belum sempurna, sehingga usahanya akan terus-menerus disempurnakan,'' papar Direktur Investasi Shinta VR ini.

Ibarat update software di laptop, adakalanya sistem meminta dilakukannya pengkinian data. ''Itu sebabnya bisnis rintisan secara terus-menerus meng-update dirinya, sambil secara berkala mencari update terbaru,'' kata dia.

Saat ini Reza sedang menangani enam perusahaan rintisan yang sedang berjalan. ''Salah satunya adalah “Pantoera” yang digagas anak-anak muda yang bermukim di wilayah Pantai Utara Jawa atau Pantura. Kami membangun Pantoera sebagai satu wadah bagi anak muda, sehingga mereka juga dapat mempelajari keahlian digital dan sektor-sektor yang termasuk dalam bidang ekonomi kreatif,” papar Reza.

Alumnus UGM ini mengaku punya keinginan untuk menggandeng anak-anak muda di sekitar wilayah domisilinya di Kabupaten Batang, Pekalongan, Jawa Tengah, dan mengoptimalisasi bakat mereka sebagai generasi digital. “Mereka memiliki peluang bergerak lebih cepat, lebih gesit, dan lebih paham banyak hal yang lebih bagus di era sekarang dibanding era sebelumnya,” jelas Reza.

Sejumlah hal menarik yang mengulik keinginan Reza membangun gerakan itu sebelum menuju pada tahapan menjadi perusahaan rintisan bagi Pantoera, bahwa anak-anak muda di sepanjang Pantai Utara Jawa itu sebelumnya minder, tidak mudah terbuka.

Padahal sebenarnya mereka memiliki bakat yang cukup kuat, namun selama ini terpendam begitu saja. Terbukti saat diminta menampilkan eksistensinya melalui medsos TikTok dan berpose di Instagram (IG), keahlian mereka mulai terlihat, tetapi belum mampu diekspresikan kepada audiens yang tepat dan berpotensi. 

Reza juga sempat menyinggung soal metodologi yang menjadi acuan yaitu lean method. Menurut dia, metode ini mengajarkan untuk memulai bisnis awal tidak memerlukan sumber daya yang banyak sebagai modal dasar, melainkan perlu mencari di mana problemnya, lantas perlu mengadakan atau mencari solusi, baik dalam bentuk produk maupun jasa sebagai hasil akhir, atau apapun yang dapat menyelesaikan problemnya.“

“Begitu problem sudah terpecahkan, maka tinggal meningkatkan skala usaha tersebut, seraya melihat indikator berapa kasus yang dapat dipecahkan dalam satu bulan, misalnya. Jika pada bulan pertama hanya selesai satu kasus, maka bulan berikutnya ditingkatkan menjadi 10 sampai 100 kasus yang dapat diselesaikan,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nadia Hasna Humaira, duta Padusi.id yang mewadahi pemuda Indonesia untuk saling bertukar gagasan dan pandangan serta menyerap ilmu dari sejumlah praktisi berbagai keahlian, menanggapi ide Reza tersebut secara terbuka.

Dia juga berharap gagasan membangun satu gerakan seperti Pantoera, juga dapat diduplikasi di wilayahnya berasal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. “Dengan lapang dada dan tangan terbuka, kami pemuda dan pemudi di Kabupaten Bogor mengharapkan adanya sentuhan dan coaching yang lebih ‘mengena,’ sehingga potensi anak muda di sini, akan lebih terlihat dan juga mampu menghasilkan benefit, baik yang sifatnya komersial maupun nonkomersial,” papar Nadia yang sempat mengenyam pendidikan di Kuala Lumpur, Malaysia.

sumber : siaran pers
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA