Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

FIFA dan UEFA Dinilai tak Segarang Kala Benahi Rasialisme

Selasa 20 Apr 2021 22:52 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto

Patrick Bamford dari Leeds United.

Patrick Bamford dari Leeds United.

Foto: AP/Tim Keeton/Pool EPA
Perbedaan itu berpangkal pada dampak yang dirasakan langsung oleh UEFA atau FIFA.

REPUBLIKA.CO.ID, LEEDS -- Striker Leeds United, Patrick Bamford, melontarkan sindiran keras terhadap Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA). Menurut striker asal Inggris itu, dua badan otoritas sepak bola itu terlihat begitu garang saat menangani polemik soal Liga Super Eropa.

Namun, kegarangan UEFA dan FIFA ini tidak terlihat saat diharapkan bisa mengatasi problem lain di pentas sepak bola, terutama soal isu rasialisme. Bamford pun menyindir, perbedaan tersebut berpangkal pada dampak yang dirasakan langsung oleh UEFA atau FIFA dalam dua problem tersebut.

''Benar-benar luar biasa melihat skala kegemparan di permainan ini saat telah menyinggung kantong seseorang. Sayangnya, sangat memalukan, kegemparan yang sama tidak bisa dihadirkan di problem-problem lain, yang justru terjadi setiap saat, seperti masalah rasialisme,'' ujar Bamford seperti dilansir Sky Sports, Selasa (20/4).

UEFA dan FIFA memang dinilai tidak memberikan sanksi yang tegas dan memberikan efek jera terhadap pihak-pihak yang kedapatan melakukan tindakan berbasis rasialisme di sebuah pertandingan sepak bola. Salah satu hukuman terberat berupa sanksi larangan bertanding untuk seorang pemain ataupun tanpa dihadiri penonton untuk sebuah tim kala melakoni laga tandang.

Sementara, UEFA dan FIFA langsung menyiapkan sanksi yang begitu keras buat pihak-pihak yang terlibat dalam pembentukan Liga Super Eropa. UEFA mengancam tidak akan memperbolehkan 12 klub pendiri ESL untuk berkiprah di kompetisi domestik dan semua kompetisi yang berada di bawah naungan UEFA.

Selain itu, UEFA juga mendapatkan dukungan dari FIFA agar tidak memperbolehkan pemain yang berpartisipasi di ESL untuk memperkuat timnas negara masing-masing di laga internasional, termasuk di Piala Eropa dan Piala Dunia. Bamford juga mengungkapkan penolakannya terhadap adanya ESL.

Menurut striker berusia 27 tahun itu, tidak ada satu pun penggemar sepak bola yang menyambut positif terkait bergulirnya ESL tersebut. Padahal, tanpa kehadiran dan dukungan fan, sepak bola bukanlah apa-apa.

''Para pemain sama seperti fan. Kami tidak percaya dengan rencana ESL tersebut. Sepak bola adalah soal fan. Tanpa fan, sepak bola bukanlah apa-apa. Karena itu, sangat penting untuk menunjukan sikap kami. Sepak bola adalah untuk para fan,'' kata Bamford.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA