Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

BI Rate Dipertahankan, Bank Diminta Optimalkan Turunkan SBDK

Selasa 20 Apr 2021 17:26 WIB

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Suku bunga kredit/ilustras

Suku bunga kredit/ilustras

Foto: ist
Penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) demi meningkatkan minat kredit dunia usaha.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) terus mendorong pengoptimalan penurunan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) demi meningkatkan minat kredit dunia usaha. BI juga mengapresiasi bank-bank yang sudah menurunkan SBDK yang diharapkan terus berlanjut.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan suku bunga kebijakan moneter yang tetap rendah dan likuiditas yang masih longgar mendorong suku bunga terus menurun. Di pasar uang, longgarnya likuiditas dan penurunan BI7DRR sebesar 150 bps sejak 2020 mendorong rendahnya rata-rata suku bunga PUAB overnight sekitar 2,79 persen selama Maret 2021.

Di sektor perbankan, sejalan dengan dilakukannya kebijakan transparansi suku bunga, perbankan telah merespons dengan melakukan penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK) per Februari 2021 sebesar 171 bps (yoy). Penurunan SBDK tersebut terutama terjadi pada kelompok bank BUMN yang turun sebesar 266 bps (yoy) menjadi sebesar 8,70 persen.

"Bank-bank sudah ikuti kebijakan dengan penurunan SBDK, kami minta perbankan untuk terus turunkan lagi," katanya dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (20/4).

Penurunan SBDK terjadi pada semua jenis kredit dengan penurunan terdalam masih pada jenis kredit Mikro yaitu 346 bps (yoy), meski masih merupakan jenis kredit dengan level SBDK tertinggi yaitu 12,72 persen. Sementara itu, penurunan SBDK yang terjadi pada jenis kredit Konsumsi KPR, Konsumsi Non KPR, Korporasi dan Ritel masing-masing adalah sebesar 194 bps, 193 bps, 139 bps dan 136 bps (yoy) menjadi 8,19 persen, 9,25 persen, 8,26 persen, dan 8,84 persen.

Penurunan SBDK secara industri terjadi pada seluruh komponen, yaitu pada Harga Pokok Dasar Kredit (HPDK) sebesar 120 bps (yoy), diikuti Overhead Cost (OHC) 31 bps (yoy) dan Margin Keuntungan 21 bps (yoy). Margin Keuntungan kelompok bank BUMN dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) mengalami penurunan sebesar 88 bps dan 34 bps (yoy), sementara Margin Keuntungan Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) masih menunjukkan peningkatan sebesar 48 bps dan dua bps (yoy).

Perry mengatakan, kebijakan transparansi suku bunga telah berdampak signifikan pada penurunan SBDK. Sehingga bisa mendukung peningkatan pertumbuhan kredit dari perbankan. Begitu juga kebijakan DP nol persen yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat.

"Sudah ada yang melakukan, tapi memang ini jadi preferensinya bank-bank, sudah terlihat untuk kredit kendaraan dan rumah sudah alami peningkatan terutama di segmen menengah ke atas," katanya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA