Menyibak Pesan Cinta Ramadhan

Red: Heri ruslan

 Selasa 20 Apr 2021 13:32 WIB

Umat Islam berdoa sebelum melaksanakan shalat jumat pertama pada bulan Ramadhan 1442 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (16/4/2021). Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso Umat Islam berdoa sebelum melaksanakan shalat jumat pertama pada bulan Ramadhan 1442 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (16/4/2021).

Melalui puasa Allah ingin menyampaikan tentang pentingnya menjaga kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Tina Haryati MPd | PNS Kemenag Kabupaten Karawang

Jingga melukis senja begitu indah sore itu. Bukan sembarang rindu yang dikisahkan tapi tentang penantian panjang nan syahdu, hingga sejak 100 hari lalu melambungkan pinta ke langit doa untuk bertemu dengan bulan nan suci ini. “Allohumma Baariklanaa Fii Rojaba Wasya’bana Waballigna Romadhona”.

Ramadhan yang dinanti, berdebar-debar di hati, gelisah menanti, takut tak dapat bersua lagi, hingga ketika senja itu, hilal menampakkan senyumnya, gegap gempita seketika. Ungkapan syukur meluncur dari lisan-lisan para insan. Langkah-langkah bergegas ke rumah Tuhan. Sajadah pun dihamparkan, tua muda, laki, perempuan rapi dalam barisan, shaf-shaf memanjang hingga ke pelataran. 

Tarawih malam pertamapun dimulakan. Hingga saat terdengar takbir “Allahu Akbar” dari sang Imam, air mata sesaat menetes. Tanda bahagia tak terkira serasa hati berbisik, “Terima kasih telah Kau jumpakan lagi dengan Ramadhan tahun ini.”

Rasa bahagia campur haru yang dirasakan umat Islam atas datangnya bulan Ramadhan memang sangatlah wajar. Layaknya sang pecinta, dengan kekasihnya. Kedatangannya begitu dirindukan, kebersamaannya penuh kesan, dan perpisahannya meninggalkan sejuta kenangan yang tak lekang dalam ingatan, dari masa ke masa. 

Pesan cinta yang begitu mempesona, di balik datangnya bulan Ramadhan ini menghadirkan energi yang menghantarkan gelombang ketaatan terhadap ajaran yang dibawa oleh sang Rasul terpilih. Puasa adalah pesan cinta pertama di balik bulan Ramadhan yang disampaikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW. 

Melalui puasa Allah ingin menyampaikan tentang pentingnya menjaga kesehatan. Jika pada bulan di luar Ramadhan, banyak rupiah dikeluarkan demi kesehatan maka di bulan ini cukupkansaja dengan puasa.  “Berpuasalah, maka engkau akan sehat,” begitulah yang disabdakan Rasulullah SAW.  

Menurut laman resmi Kementerian Kesehatan dan Healthline,  puasa Ramadhan bermanfaat sebagai detoksifikasi tubuh, membantu regenerasi sel, memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengontrol gula darah, mengurangi peradangan, meningkatkan kesehatan jantung.

Zakat fitrah. Kewajiban lain yang ditunaikan umat Nabi Muhammad pada bulan Ramadhan merupakan ibadah yang juga syarat dengan pesan-pesan cinta di dalamnya. Dengan zakat fitrah, Allah ingin mensucikan kembali hambanya yang penuh dosa, menyempurnakan kekurangan ibadah puasanya, hingga bisa kembali fitri (suci). 

Dalam zakat fitrah inipula terdapat filosofi inti ajaran islam yang penuh kasih sayang. Kebahagian pecinta adalah ketika melihat yang dicintainya bahagia, begitu goresan tinta para pujangga. Senada dengan ajaran Islam yang mengajarkan bahwa perumpamaan Muslim satu dengan lainnya ibarat satu tubuh, satu  bagian merasakan sakit maka bagian yang lainnya akan merasakan sakit pula. 

Zakat fitrah, manifestasi ajaran Islam yang mengungkapkan cinta kasih dalam hal yang konkret, yaitu membantu memenuhi kebutuhan pokok saudaranya yang sedang dalam kesusahan terutama di masa pandemi Covid-19. Begitulah umat Islam seharusnya, saling mengasihi, saling peduli, mengutamakan kebersamaan dalam keberagaman.

Nuzulul Quran, dan Lailatul Qadar adalah moment istimewa sarat pesan cinta yang juga ada pada bulan Ramadhan. Malam Nuzulul Quran yang diperingati setiap 17 Ramadhan menjadi istimewa karena malam pertama diturunkannnya surat cinta terindah dari Sang Maha Cinta untuk hamba-Nya, melalui perantara malaikat Jibril Ar-ruhul Qudus.

Peristiwa ini merupakan ruang sejarah yang berhubungan dengan proses kehidupan umat manusia selanjutnya, karena Alquran merupakan pedoman hidup manusia, penerang jalan kegelapan, tuntunan yang menghantarkan manusia pada kesejatian hidup dan kebahagian di dunia dan di akhirat. 

Tidak ada kesejatian cinta yang hakiiki selain cinta sang Ilahi kepada HambaNya. Selayaknya cinta pastilah tumbuh rindu, dan tiada obat bagi perindu selain bertemu. Begitupun bagi para pejuang cinta ilahi, pasti menantikan pertemuan. 

Segala isi hati tercurah. Segala kerinduan terungkapkan melalui ketaatan dalam sujud-sujud panjang dan lantunan dzikir di malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hanya satu kali kesempatan dalam satu tahun yakni di bulan Ramadhan.

Allah tunjukan pesan cintaNya melalui sebuah malam, di mana segala doa dan harapan dikabulkan, kesusahan dan kepayahan dihilangkan, keberkahan dan RahmatNya diturunkan. Kesejahteraan dan kedamaian dijanjikan, “malam itu penuh kesejateraan hingga terbit fajar" QS al-Qadr:5. 

Malaikat-malaikat turun ke bumi untuk mendengar pinta dan memohonkan ampunan. Malam sejuta kebaikan saat pahala dilipatgandakan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Seribu bulan, setara dengan 83 tahun, akankah kita sampai pada usia itu? Maka andaikan saja Ramadhan kali adalah Ramadhan terakhir kita, masihkan akan kita sia-siakan malam perjumpaan penuh cinta itu? (*)

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X