Selasa 20 Apr 2021 13:04 WIB

Peneliti Kloning Suara Albert Einstein

Suara Einstein hadir dalam platform kecerdasan buatan.

Rep: Puti Almas/ Red: Dwi Murdaningsih
Albert Einstein
Foto: ist
Albert Einstein

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan produksi konten audio Aflorithmic dan digital human creators, UneeQ telah berkolaborasi mensistesis suara seorang ilmuwan ternama dunia, Albert Einstein.

Kedua perusahaan ingin memberi pengguna kesempatan mengajukan pertanyaan praktis terhadap kecerdasan buatan Einstein, seperti saat fisikawan itu hidup di dunia nyata. Baik Aflorithmic, maupun UneeQ memilih Einstein karens reputasinya yang terkenal sebagai seorang jenius, ikon sejarah, dan penggemar teknologi.

Baca Juga

Selain itu, Einstein juga menjadi sosok yang ingin ditemui oleh banyak orang secara langsung jika memungkinkan. UneeQ telah menggabungkan teknik rendering karakter visual dengan mesin pengetahuan komputasi tingkat lanjut untuk membuat prototipe ini serealistis mungkin.

Dalam upaya membangkitkan suara otentik Einstein yang asli, para peneliti tidak dapat melakukan banyak hal. Satu-satunya catatan yang berhasil mereka temukan dari catatan sejarah melaporkan bahwa Einstein memiliki aksen Jerman yang kental dan berbicara dengan nada perlahan, bijak, dan ramah, namun memiliki nada tinggi.

Meski demikian, karena aksen Einstein yang kental dan buruknya kualitas rekaman lama dari suaranya, tim pengembangan telah berjuang untuk menangkap kerangka acuan yang solid tentang bagaimana itu mungkin terdengar. Beruntung, tidak terlalu banyak pengguna yang nampaknya terlalu mengkhawatirkan keakuratan suara Einstein.

Berangkat dari asumsi ini, para peneliti berencana untuk membuat suara baru untuk Einstein yang meskipun mungkin tidak identik dengan suara fisikawan itu sendiri. Penafsiran baru suara Einstein ini membuat fisikawan tersebut masih berbicara dengan aksen Jerman dengan tambahan rasa humor kering serta keramahan untuk mencerminkan padanannya di kehidupan nyata.

Faktanya, peneliti bahkan memberi kecerdasan buatan (AI) ini kemampuan untuk berbicara seolah-olah merefleksikan pengetahuan Einstein sendiri saat berinteraksi dengan pengguna. Selain aspek kloning suara, peneliti juga harus mengembangkan Digital Einstein untuk menjawab pertanyaan pengguna dengan cepat, mirip dengan chatbot layanan pelanggan atau asisten pribadi.

Untuk mencapai hal tersebut, para peneliti membuat perputaran waktu nyata untuk teks input yang diterima oleh mesin pengetahuan komputasi ke API Afloritmik. Sejak itu, hanya dalam dua minggu, tim peneliti berhasil mengurangi waktu respons bot Einstein dari 12 detik menjadi kurang dari tiga detik.

Secara keseluruhan, Aflorithmic dan Uneeq memprediksi proyek Digital Einstein sebagai permulaan dari potensi interaktif dari percakapan AI dengan manusia.

Puti Almas

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement