Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Pemerintah Bayangan Myanmar Desak ASEAN Tidak Akui Junta Militer

Senin 19 Apr 2021 21:50 WIB

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle

picture-alliance/dpa

picture-alliance/dpa

Pemerintah bayangan Myanmar mendesak pemimpin ASEAN tidak mengakui rezim militer.

Pemimpin junta militer Min Aung Hlaing diperkirakan akan bergabung dalam KTT ASEAN pada 24 April 2021 di Jakarta.

Kementerian Luar Negeri Thailand pada Sabtu (17/04) menyatakan para pemimpin negara di Asia Tenggara berupaya menjalin komunikasi dengan rezim militer Myanmar. Pertemuan puncak yang akan membahas penyelesaian konflik di Myanmar itu dipastikan melibatkan pejabat junta militer.

"Beberapa pemimpin telah mengkonfirmasi kehadiran mereka, termasuk MAH Myanmar (Min Aung Hlaing)," kata juru bicara Tanee Sangrat.

Kontroversi undangan KTT ASEAN

Undangan yang ditujukan kepada Min Aung Hlaing itu menuai cemoohan dari para aktivis yang mendesak para pemimpin Asia Tenggara untuk tidak mengakui kekuasaan junta militer.

"#ASEAN tidak melegitimasi junta militer Myanmar sebagai pemerintah dengan mengundang MAH untuk menghadiri KTT," kata aktivis terkemuka Wai Wai Nu di Twitter. "(The) Junta tidak sah dan ilegal."

Pada Sabtu (17/04) malam, #ASEANrejectSAC berada di antara trending teratas Twitter di Myanmar.

Moe Zaw Oo, Wakil Menteri Luar Negeri untuk "pemerintah persatuan nasional" paralel - yang dibentuk Jumat (16/04) oleh anggota parlemen yang digulingkan dari partai Suu Kyi, serta politisi etnis-minoritas - mengatakan ASEAN belum berupaya "menjangkau" mereka.

"Jika ASEAN ingin membantu menyelesaikan situasi Myanmar, mereka tidak akan mencapai apa pun tanpa berkonsultasi dan bernegosiasi dengan NUG, yang didukung oleh rakyat dan memiliki legitimasi penuh," katanya kepada layanan Burma Voice of America.

"Penting agar dewan militer ini tidak diakui. Ini perlu ditangani dengan hati-hati."

Junta militer terus targetkan pekerja media

Pada Minggu (18/04), junta militer menangkap jurnalis asal Jepang, Yuki Kitazumi di rumahnya di Yangon. Sebelumnya pada Februari lalu, dia dipukuli dan ditahan, tetapi kemudian dibebaskan.

Pada Senin (19/04), pemerintah Jepang meminta Myanmar untuk segera membebaskan Yuki Kitazumi. Kitazumi belum didakwa dan para diplomat tengah berupaya meminta izin untuk mengunjunginya di penjara, kata seorang juru bicara kepada AFP, menambahkan bahwa dia telah dipindahkan dari rumah jaga polisi ke penjara Insein.

Penjara Insein dikenal sebagai tempat menahan para tahanan politik.

Kepala Sekretaris Kabinet Katsunobu Kato mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahnya meminta pihak berwenang Myanmar untuk menjelaskan penangkapan tersebut dan memberikan rincian lainnya seraya meminta pembebasan Kitazumi sesegera mungkin.

"Kami akan terus meminta pihak Myanmar untuk pembebasan lebih awal, sambil melakukan yang terbaik untuk melindungi warga Jepang di negara itu," kata Kato.

Sejauh ini, jumlah wartawan yang telah ditangkap mencapai lebih dari 65 orang, 34 di antaranya masih ditahan.

Selain itu, pihak berwenang mengumumkan pada Minggu (18/04) malam di televisi yang dikelola pemerintah, bahwa 20 selebriti dan 20 dokter akan ditambahkan ke dalam daftar surat perintah penangkapan. ha/hp (AFP, dpa)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA