Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Obat Jantung Digoxin Berpotensi Bantu Atasi Obesitas

Senin 19 Apr 2021 20:46 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Studi terbaru pada hewan coba tikus menunjukkan bahwa obat digoxin berpotensi membantu mengatasi masalah obesitas.

Studi terbaru pada hewan coba tikus menunjukkan bahwa obat digoxin berpotensi membantu mengatasi masalah obesitas.

Foto: Livescience
'Digoxin' merupakan obat yang saat ini digunakan dalam terapi masalah jantung.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Studi terbaru pada hewan coba tikus menunjukkan bahwa obat digoxin berpotensi membantu mengatasi masalah obesitas. Digoxin merupakan obat yang saat ini sudah digunakan dalam terapi berbagai masalah jantung.

Studi ini dilakukan oleh tim peneliti dari The Spanish National Cancer Research Centre. Sekitar lima tahun lalu, tim peneliti ini juga berhasil menemukan bahwa molekul pemicu inflamasi bernama interlukin 17A atau IL-17A tampak memainkan peran dalam penurunan berat badan.

Tim peneliti menilai penggunaan obat yang dapat menghambat aktivitas IL-17A bisa memicu terjadinya penurunan berat badan pada hewan coba tikus. Oleh karena itu, dalam studi terbaru ini tim peneliti menggunakan obat yang dapat menghambat aktivitas IL-17A. Obat tersebut adalah digoxin.

Dalam studi yang dimuat pada jurnal Nature Metabolism ini, tim peneliti memberikan digoxin pada tikus obesitas yang menjalani pola makan tinggi kalori. Meski pola makan tikus tidak diubah, peneliti emndapati adanya aktivasi metabolisme basal pada tikus tersebut. Situasi tersebut memicu terjadinya pembakaran lemak berlebih dan perbaikan kondisi obestias.

Dalam waktu singkat, tikus-tikus obesitas tersebut berhasil mencapai berat badan yang sama dengan tikus-tokus sehat pada kelompok kontrol. Tim peneliti juga tak menemukan adanya efek samping negatif pada tikus yang mendapatkan digoxin. Tim peneliti mengungkapkan bahwa manfaat penurunan berat badan ini berlangsung setidaknya delapan bulan.

"Ketika Anda menghambat produksi IL-17A atau jalur pemberi sinyal yang mengaktivasi molekul ini, Anda tidak (akan) memiliki obesitas," jelas ketua tim peneliti Nabil Djouder, seperti dilansir New Atlas, Senin (19/4).

Berdasarkan uji coba ini, peneliti menemukan bahwa IL-17A bekerja secara langsung di jaringan lemak. Dampak dari situasi tersebut tak hanya memicu terjadinya obesitas, tetapi juga dapat menyebabkan perubahan metabolik yang sama seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Tim peneliti menilai obat digoxin mungkin dapat diberikan kepada pasien obesitas dalam kurun waktu singkat hingga berat badan mereka stabil. Setelah itu, terapi dapat dilanjutkan dengan penerapan pola makan yang sehat.

"Obat tersebut juga dapat diindikasikan untuk patologi terkait obesitas, seperti hiperkolesterolemia, steatosis hati, dan diabetes tipe 2," papar peneliti Ana Teijeiro.

Akan tetapi, sejauh ini manfaat dan efek dari digoxin baru diobservasi dari hewan coba tikus saja. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut sebelum digoxin bisa diberikan sebagai terapi obesitas pada manusia.

"Berkat studi ini, kita tahu bahwa penurunan berat badan dan perubahan sistem metabolik dikontrol oleh mekanisme molekuler unik, IL-17A," pungkas Djouder.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA