Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Diet dan Olahraga Pengaruhi Kondisi Otak di Masa Tua

Senin 19 Apr 2021 13:17 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Nora Azizah

Aktivitas fisik yang dilakukan sejak kecil bisa bermanfaat bagi otak hingga dewasa.

Aktivitas fisik yang dilakukan sejak kecil bisa bermanfaat bagi otak hingga dewasa.

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Aktivitas fisik yang dilakukan sejak kecil bisa bermanfaat bagi otak hingga dewasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kebiasaan sehat seputar diet dan olahraga adalah ide yang baik, tidak peduli berapa pun usia kita. Namun sebuah penelitian baru menekankan pentingnya membentuk aktivitas fisik sejak dini. Para ilmuwan mendemonstrasikan bagaimana kombinasi makan sehat dan aktivitas fisik selama masa kanak-kanak dapat memiliki manfaat yang bertahan lama hingga dewasa.

Salah satu manfaatnya termasuk juga peningkatan massa otak dan tingkat kecemasan yang lebih rendah. Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di University of California Riverside (UCR), yang pada Februari lalu menerbitkan sebuah penelitian yang merinci bagaimana pola makan yang buruk di masa kanak-kanak dapat menyebabkan perubahan jangka panjang pada mikrobioma usus, bahkan setelah beralih ke yang lebih sehat seperti diet.

Studi baru ini mengikuti tema serupa, tetapi menyelidiki dampak diet yang dilakukan pada masa kanak-kanak yang dikombinasikan dengan olahraga, berpengaruh pada kesehatan di kemudian hari. "Setiap kali kita pergi ke dokter dengan kekhawatiran berat badan, dokter pasti merekomendasikan berolahraga dan makan lebih sedikit," kata pemimpin studi itu, Marcell Cadney, dilansir dari newatlas, Senin (19/4).

“Itulah mengapa sangat mengejutkan jika sebagian besar penelitian, hanya melihat diet atau olahraga secara terpisah. Dalam studi ini, kami ingin memasukkan keduanya,” kata Cadney lagi.

Studi ini digambarkan sebagai yang pertama mengeksplorasi efek jangka panjang dari kombinasi diet dan olahraga, dan melibatkan tikus muda yang dipisahkan menjadi empat kelompok berbeda. Beberapa dipaksa berolahraga, yang lain tidak diberi akses berolahraga, yang lain diberi makan makanan sehat dan yang lain ditempatkan pada diet gaya Barat yang tinggi lemak dan gula.

Tikus muda mengikuti rejimen yang diberikan selama tiga pekan sampai mereka mencapai kematangan seksual. Semua tikus kemudian diberi periode ‘pencucian’, dimana mereka tidak diberi akses ke roda olahraga dan diberi diet sehat, setelah itu para ilmuwan melakukan penilaian mereka. Ini termasuk mengukur kapasitas aerobik, analisis perilaku dan melihat tingkat beberapa hormon.

Dan hasilnya menunjukkan bahwa olahraga teratur dan makan sehat di awal kehidupan, menyebabkan peningkatan massa otot dan otak pada tikus dewasa, dengan juga menunjukkan perilaku yang tidak terlalu cemas. Para peneliti mencatat, olahraga di awal kehidupan, apa pun dietnya, juga menyebabkan peningkatan konsentrasi leptin (hormon yang diproduksi oleh sel lemak yang mengatur nafsu makan dan penyimpanan lemak) pada tikus dewasa.

“Temuan kami mungkin relevan, untuk memahami efek potensial dari pengurangan aktivitas dan perubahan pola makan yang terkait dengan obesitas,” kata ahli fisiologi evolusioner UCR, Theodore Garland. Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Physiology and Behavior.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA