Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

IAEA Konfirmasi Pengayaan 60 Persen Uranium oleh Iran

Ahad 18 Apr 2021 17:59 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Pabrik pengayaan uranium, di Qom, Iran

Pabrik pengayaan uranium, di Qom, Iran

Iran sebelumnya hanya mencapai kemurnian uranium 20 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, WINA -- Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi proses pengayaan uranium hingga 60 persen yang sedang dilakukan Iran. Langkah itu dinilai bakal memperumit pemulihan kembali kesepakatan nuklir yang melibatkan anggota tetap Dewan Keamanan PBB plus Jerman dan Uni Eropa.

"IAEA hari ini memverifikasi bahwa Iran telah memulai produksi UF6 yang diperkaya hingga 60 persen di Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Pilot Natanz (di atas tanah)," kata IAEA dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (17/4).

UF6 adalah uranium heksafluorida. UF6 merupakan bentuk di mana uranium dimasukkan ke dalam sentrifugal untuk pengayaan. Reuters sempat melihat laporan rahasia yang dibagikan IAEA ke negara-negara anggota.

Baca Juga

"Menurut deklarasi Iran kepada IAEA, tingkat pengayaan UF6 yang diproduksi di PFEP (Pengayaan Bahan Bakar Pilot Natanz) adalah 55,3 persen U-235. IAEA mengambil sampel UF6 yang diproduksi untuk analisis destruktif guna memverifikasi secara independen tingkat pengayaan yang dinyatakan oleh Iran. Hasil analisis ini akan dilaporkan oleh IAEA pada waktunya," demikian salah satu keterangan dalam laporan tersebut.

Iran sebelumnya hanya mencapai kemurnian 20 persen. Itu sebenarnya asudah melanggar kesepakatan nuklir 2015 atau yang dikenal dengan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Dalam JCPOA diatur bahwa Iran hanya dapat memperkaya uranium hingga 3,67 persen.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken mengkritik rencana Iran memperkaya uraniumnya hingga 60 persen. Menurutnya, langkah itu adalah sebuah tindakan provokatif.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA