Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Ini Antisipasi Indonesia Agar Kasus Covid tak Seperti India

Ahad 18 Apr 2021 15:13 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Bayu Hermawan

 Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito

Foto: Satgas Covid-19
Satgas mengatakan pemerintah siapkan antisipai agar kasus Covid tak seperti India.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah negara di dunia mengalami lonjakan kasus Covid-19 yang sangat signifikan. India misalnya, mencatatkan penambahan kasus harian mencapai lebih dari 220 ribu kasus per hari. Angka ini membuat fasilitas kesehatan di sana kewalahan menangani pasien positif Covid-19.

Gelombang Covid-19 untuk kesekian kalinya yang terjadi di belahan lain dunia ini juga membuat pemerintah Indonesia perlu waspada. Apalagi ancaman risiko kenaikan kasus bagi Indonesia ada di depan mata: peningkatan mobilitas warga menjelang Lebaran nanti. 

Kendati mudik telah resmi dilarang selama periode 6 sampai 17 Mei, namun masyarakat masih bisa pulang kampung di luar tanggal itu. Artinya, risiko lonjakan kasus masih ada. 

Baca Juga

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, pemerintah tidak tinggal diam dalam mengantisipasi hal ini. Indonesia, ujar Wiku, telah menerapkan kebijakan berlapis dengan membatasi mobilitas internasonal sesuai dengan Surat Edaran (SE) Satgas nomor 8 tahun 2021. Pembatasan juga dilakukan untuk mobilitas dalam negeri sesuai dengan SE Satgas nomor 12 tahu 2021. 

"Pemerintah juga melakukan PPKM Mikro dan peniadaan mudik sesuai SE Satgas nomor 13 tahun 2021. Ini upaya kita dalam pengendalian kasus Covid-19," ujar Wiku kepada Republika.co.id, Ahad (18/4). 

Dalam penerapannya, Wiku menegaskan, pemerintah melibatkan banyak pihak termasuk TNI, Polri, pemerintah daerah, satgas level daerah, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Pengetatan pengawasan ini juga berkaca pada penyebab lonjakan kasus di India yang diprediksi disebabkan mulai kendornya penerapan protokol kesehatan oleh warganya.

"Tugas Satgas di daerah dan posko level desa menegakkan kembali aturan sesuai keadaan di daerahnya masing-masing," kata Wiku. 

Selain itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun memerintahkan seluruh pemerintah daerah untuk memprioritaskan vaksinasi Covid-19 untuk warga lanjut usia (lansia). Cara ini dipercaya mampu mengurangi risiko kematian akibat Covid-19 yang selama ini lebih banyak mengintai lansia. 

"Jadi tolong dipastikan dalam sebulan ini prioritas diberikan vaksinasi kepada lansia. Sehingga senior-senior kita ini bisa kita lindungi. Kalau nanti dikunjungi oleh keluarganya mereka sudah relatif imunitasnya lebih baik," jelasnya.

Meski program vaksinasi Covid-19 dikebut, menkes meminta masyarakat terlena dan tidak waspada. Menurutnya, ancaman lonjakan kasus masih nyata. Budi menyampaikan, program vaksinasi dan PPKM level mikro memang terbukti ampuh menekan angka penularan sepanjang Februari-April ini. Namun, menurutnya, keteledoran dengan abai menjalankan protokol kesehatan bisa dengan mudah menaikkan kembali angka kasus harian. 

"Jangan sampai program vaksinasi dan PPKM mikro sudah berkalan ini dan sudah bisa menurunkan kasus covid membuat kita menjadi tidak waspada. Membuat kita tidak hati-hati karena lonjakan bisa terjadi lagi dan usaha keras ini jadi sia-sia karena kita kurang waspada," kata Budi. 

Juru Bicara Kementerian Kesehatan untuk Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi menambahkan, pemerintah juga menggencarkan promosi pelaksanaan protokol kesahatan dan meningkatkan imbauan agar masyarakat mengurangi pergerakan di luar rumah. 

"Apalagi, selain mobilitas penyebab terjadi lonjakan kasus di negara lain, kita juga sudah ada mutasi dan varian virus baru," ucapnya.

Selain India, lonjakan kasus dikabarkan juga terjadi di Papua Nugini, Filipina, Chili, Brazil, dan negara-negara Eropa. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA