Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

Saturday, 26 Ramadhan 1442 / 08 May 2021

IKN Jadi Smart City, Jokowi: Tak Sekadar Serba-Otomatis

Ahad 18 Apr 2021 11:25 WIB

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Andi Nur Aminah

Presiden Joko Widodo.

Presiden Joko Widodo.

Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Smart city lebih mengedepankan desain atau perencanaan yang 'smart'.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan bahwa keberadaan smart city tak sekadar kota yang fasilitasnya serbaotomatis atau terhubung dengan layanan internet of things. Lebih jauh, ujar Jokowi, smart city lebih mengedepankan desain atau perencanaan yang 'smart', yakni memberikan kenyamanan sempurna bagi warganya. Barulah, perangkat digital diaplikasikan untuk meningkatkan kenyamanan itu. 

Konsep smart city yang dijelaskan presiden itulah yang akan diterapkan dalam pembangunan ibu kota negara (IKN) yang akan dibangun di Kalimantan Timur. Jokowi pun mengajak Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) untuk merancang ibu kota baru dengan perencanaan yang 'smart' dan berpeluang menjadi rujukan dunia. 

"Mari jadikan kota-kota di Indonesia menjadi smart city, provinsi-provinsi menjadi smart province, diawali dengan desain yang smart. Mari kita rancang ibu kota baru di Kalimantan Timur menjadi kota dan kawasan yang smart desainnya. Yang menjadi pionir kota yang menjadi rujukan-rujukan dunia," ujar Jokowi dalam sambutan acara HUT IAPI, Sabtu (17/4) sore. 

Baca Juga

Dalam kesempatan yang sama, Jokowi juga menekankan bahwa perencanaan wilayah tidak semata-mata membangun gedung saja. Namun konsep perencanaan, ujarnya, mencakup membangun lingkungan dan tempat hidup yang nyaman, yang implikasinya ke kesehatan masyarakat, interaksi sosial, budaya, hingga efisiensi ekonomi. 

"Yang sangat memengaruhi kebahagiaan dan kreativitas warganya. Perencanaan harus mempertimbangkan budaya masyarakat, harus mempertimbangkan sejarah. Mempertimbangkan struktur ekonomi dan banyak aspek lainnya," kata Jokowi. 

Jokowi pun mewanti-wanti para ahli agar tidak merancang wilayah yang malah membuat warganya terasing di kampungnya sendiri. Perencanaan, imbuhnya, harus menghindarkan warga dari kemacetan lalu lintas atau biaya hidup yang malah semakin mahal dan tidak berkualitas. 

Kompleksnya perencanaan wilayah tak dipungkiri presiden. Namun ia terus mengajak para ahli perencanaan wilayah dan kota di Indonesia agar mampu mendesain pembangunan yang inklusif, adil, dan terbuka bagi masyarakat. Perkara transportasi misalnya, desain kota harus memberi kenyamanan bagi seluruh warga, baik yang berjalan kaki, bersepeda, hingga mengendarai kendaraan pribadi. 

"Juga bagaimana kita merancang kompleks pertokoan yang tidak eksklusif untuk kelas atas saja, tetapi juga mix campur dengan untuk konsumsi masyarakat bawah," ujar Jokowi.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA