Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Warga di Kabupaten Agam Diteror Harimau Sumatra

Sabtu 17 Apr 2021 16:21 WIB

Rep: Febrian Fachri/ Red: Muhammad Akbar

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) berendam dikandangnya di Solo Zoo Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Solo, Jawa Tengah, Rabu (14/4/2021). Data populasi harimau Sumatera di Indonesia berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebanyak 600-an ekor dan berstatus mengkhawatirkan akibat tingginya perusakan hutan dan perburuan liar satwa dilindungi tersebut..

Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) berendam dikandangnya di Solo Zoo Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Solo, Jawa Tengah, Rabu (14/4/2021). Data populasi harimau Sumatera di Indonesia berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebanyak 600-an ekor dan berstatus mengkhawatirkan akibat tingginya perusakan hutan dan perburuan liar satwa dilindungi tersebut..

Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya/hp
BKSDA Resor Agam mendapatkan bukti ternak mati dan luka bekas cakaran.

REPUBLIKA.CO.ID, AGAM -- Kepala  Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat Resor Agam, Ade Putra mengatakan pihaknya kini sedang menangani konflik satwa liar dilindungi jenis Harimau Sumatra di  Jorong Cubadak Lilin dan Jorong Sari Bulan, Nagari Tigo Balai Kecamatan Matur, Kabupaten Agam. BKSDA mendapatkan laporan dari warga bahwa ada tanda Harimau melukai sejumlah ternak.

"Kepala Jorong Cubadak Lilin melaporkan adanya 2 ekor ternak kerbau milik warga dalam kondisi mati dan kondisi terluka yang diduga diserang satwa liar," kata Ade, Sabtu (17/4).

Ade menyebut konflik tersebut terjadi pada Jumat (16/4) kemarin. Setelah mengirimkan tim ke lokasi, BKSDA mendapatkan bukti ternak mati dan luka bekas cakaran. Tim BKSDA juga menemukan jejak satwa dengan nama latin Panthera Tigris Sumatrae itu dengan ukuran telapak kaki 11 centimeter.

Konflik harimau dengan warga setempat sudah terjadi sejak lama. Pada Maret dan September 2020 lalu serta awal Maret 2021, terjadi konflik dengan total korban 5 ekor ternak kerbau dan 3 ekor ternak kambing milik warga. Kala itu, sudah dilakukan pengusiran.

Melihat kondisi seperti sekarang, kata Ade, BKSDA akan melakukan penangkapan dengan menggunakan perangkap.

“Kami minta  penduduk sekitar lokasi kejadian untuk waspada dan berhati-hati serta mengamankan ternak peliharaannya,” ucap Ade.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA