Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Studi: Lebih dari 500 Gen Hubungkan Depresi dengan Kecemasan

Sabtu 17 Apr 2021 00:10 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Nora Azizah

Seseorang yang alami depresi juga merasakan kecemasan berlebih.

Seseorang yang alami depresi juga merasakan kecemasan berlebih.

Foto: Sciencealert
Seseorang yang alami depresi juga merasakan kecemasan berlebih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari QIMR Berghofer Medical Research Institute di Australia baru-baru ini mendapati hubungan antara depresi dan kecemasan. Studi tersebut membuktikan bahwa seseorang yang menderita depresi pasti mengalami juga kecemasan berlebih.

Pemicu dari kondisi tersebut kompleks. Namun diyakini ada hubungannya dengan gen yang diwarisi setiap orang. Gen memainkan peran kuat dalam menyiapkan seseorang untuk menjalani kesehatan mental yang buruk seumur hidup.

Penelitian tersebut mengidentifikasi 509 gen yang dimiliki oleh kedua gangguan kejiwaan tersebut. Studi untuk mengidentifikasi gen yang terkait dengan gangguan mood seperti depresi dan kecemasan telah menemukan banyak kandidat di masa lalu.

Tapi kebanyakan dari mereka seperti tersangka yang ditemukan berdiri di sekitar tempat kejadian perkara. Sedikit yang diketahui tentang peran mereka dalam peristiwa tersebut.

"Tidak banyak yang diketahui, sampai sekarang, tentang penyebab genetik mengapa orang mungkin menderita depresi dan kecemasan," kata ahli genetika psikiatri Eske Derks dari QIMR Berghofer, seperti diwartakan Sciencealert, Jumat (16/4).

Dia menjelaskan, istilah 'gangguan kecemasan' mencakup kategori kondisi yang terkait erat, seperti gangguan panik dan berbagai fobia. Dia melanjutkan, satu hal yang sama dari semua kondisi ini adalah rasa tegang dan khawatir, yang sering kali disertai dengan perubahan fisiologis seperti peningkatan tekanan darah.

Dia mengatakan, di sisiain, depresi didefinisikan oleh gejala termasuk motivasi rendah, perasaan sedih dan kehilangan kenikmatan. Dalam kasus ekstrim, sambung dia, akan timbul pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Dia menjelaskan, sekitar 2 hingga 6 persen dari komunitas global memiliki diagnosis depresi pada satu saat. Hal itu menjadikannya tidak hanya penyumbang utama kesehatan mental yang buruk, tetapi salah satu masalah kesehatan terbesar yang mempengaruhi masyarakat modern secara umum.

Demikian pula, gangguan kecemasan juga mengganggu kehidupan sehari-hari ratusan juta orang di seluruh dunia. Jika digabungkan, kedua kondisi tersebut berdampak signifikan pada spesies kita.

Dia mengungkapkan, meskipun dalam beberapa hal tampak berlawanan namun gejala kedua kondisi tersebut muncul dengan kesamaan yang mengejutkan. Dia mengatakan, kedua gangguan tersebut merupakan kondisi yang sangat komorbiditas.

"Dengan sekitar tiga perempat orang dengan gangguan kecemasan juga menunjukkan gejala gangguan depresi mayor," kata Derks.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA